Sudut Bait Analisa Gus Nuktah Akbar : Benarkah AI Mencipta Kemudahan, Atau Justru Bumerang Untuk Kualitas SDM Era Society 5.0?

pengaruh ai era society 5.0

Oleh Rysky Firmansyah, S.Pd

Laju perkembangan zaman selalu mengarah pada titik samar yang bentuknya selalu absurd. Mulai dari era ancient, abad pertengahan, renaissance, zaman modern, zaman kontemporer, era 4.0, lalu saat ini masuk era 5.0 selalu bergerak dengan rona yang cukup signifikan perubahannya. Setiap zaman pada akhirnya akan merubah setiap tatanan krusial terkait bagaimana manusia memandang dan menjalani kehidupannya.

Pada periode modern awal atau renaissance 1500 s/d 1800an M, gelombang revolusi industri, penjajahan- penjajahan, dan juga ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Pada era ini manusia disebut telah mulai menguasai dunia dari segi yang lebih kompleks. Tumbuhnya ilmu pengetahuan, mudahnya akses penyebaran ilmu pengetahuan, penemuan-penemuan teknologi yang memungkinkan manusia menjelajah dunia, hingga pengaruh sosial, ekonomi, politik dan agama juga mengalami perubahan besar. Namun masalah juga muncul sebagai perwujudan keseimbangan arus sebuah peradaban. Manusia semakin pintar, namun juga semakin rakus dengan keangkuhannya.

Bagaimana dengan kondisi hari ini?. Sejak dunia digegerkan dengan alat perpanjangan otak manusia bernama AI, semua menjadi serba berbeda. Setiap orang akhirnya mulai terbiasa dengan seluruh aktivitas instan. Tanpa proses, tanpa mikir panjang, tanpa ribet. Menurut Dr. Ignatius Kristanto, Ai merupakan salah satu bagian dari ilmu pengetahuan komputer yang dibuat secara khusus untuk perancangan otomatisasi tingkah laku cerdas dalam suatu sistem kecerdasan di perangkat komputer. Sedangkan menurut Rich & Knight kecerdasan buatan merupakan sebuah studi tentang cara komputer melakukan hal-hal yang dapat dilakukan lebih baik dari manusia.

Dapat kita simpulkan bahwa AI merupakan sebuah alat yang diciptakan untuk membantu aktivitas manusia dengan tujuan kemudahan. Karena AI dapat merangkum triliunan data yang tersebar di internet, lalu mengolahnya menjadi bahan pertimbangan baru, maka memungkinkan untuk melakukan hal-hal diluar batas manusia secara harfiah. Apakah dengan kondisi begitu manusia benar-benar akan terbebas dari masalah? Tentu saja tidak.

Seperti diawal yang telah dibahas bahwa masalah hadir sebagai perwujudan dari kontradiktif peradaban manusia dalam sisi yang berlawanan arah, maka munculnya AI juga menimbulkan masalah baru bagi manusia itu sendiri. Alat yang diciptakan dengan tujuan memudahkan, disisi lain juga mengundang potensi kemalasan dari diri manusianya untuk mengakses proses-proses yang berkaitan dengan upgrading mutu dirinya.

Yang saat ini gencar dibicarakan secara luas adalah terkait dampak otomatisasi AI terkait konstruksi karya yang hari ini, berseliweran media manapun. Sebagian berpendapat bahwa ini wajar karena memang sudah eranya, sebagian lagi berasumsi bahwa ini memiliki akibat yang fatal dikemudian hari. Pada pembahasan ini, kita akan menyelami sebuah dimensi berpikir tentang kemajuan teknologi dengan desain kelebihan serta kelemahannya, dan peran kesadaran manusia membetengi dirinya lewat pilar-pilar penyangga keseimbangan perkembangan obsesi dari sebuah zaman.

Jika kita mengikuti perkembangan AI sampai pada persoalan-persoalan krusial yang memicu perdebatan masyarakat luas, akhirnya kita tidak bisa menganggap persoalan kesiapan SDM saat ini bisa dikesampingkan dan hanya berfokus pada eksistensi keterlibatan masyarakat dalam mengakses dan menggunakan AI.

Sebut saja temuan-temuan janggal dari beberapa pengguna AI terkait karya tulis yang sebenarnya diproduksi sendiri, tapi setelah dicek dengan aplikasi pendeteksi AI hasilnya adalah klaim bahwa itu karya AI. Kejanggalan semacam ini mungkin tidak terlalu besar pengaruhnya jika kita tidak coba Kulik lebih dalam. Akan tetapi coba kita bayangkan, jika orisinalitas karya yang diciptakan manusia akhirnya mendapatkan keraguan dari khalayak umum karena kesalahan sistem, apakah mungkin timbul bahaya dimasa mendatang?

Apabila hasil karya seseorang yang hari ini disebut kompeten atau secara personal telah menempuh proses pembelajaran intens bisa berpeluang disetarakan oleh orang-orang yang menggunakan AI tanpa kompetensi jelas tapi tidak terdeteksi, lantas mau dibawa kemana arah peradaban manusia?

Benarkah kita sedang menuju penyempitan ruang gerak dalam hal eksplorasi perkembangan ilmu pengetahuan? Antara orang-orang yang belajar dan tidak belajar bisa disetarakan secara karya? Apa tujuan dari belajar jika hal ini digiring pada satu skema masyarakat bahwa setiap orang bisa memproduksi karya tanpa belajar lebih detail tentang suatu hal?

Agus. Muhammad Iqro Nuktah Akbar, S.Ag pengasuh Pondok Pesantren Al-Inaaroh menyampaikan " Kembali ke doktrin dogmatis tentang ilmu dan keilmuan itu sendiri. Belajar itu masih penting karena belajar membuahkan output dengan  tujuan berilmu. Lewat berilmu kita bisa bermoral. Kalau Ai bisa menyetarakan pencapaian yang belajar dan tidak, secara cover area formalitas misalnya dalam bentuk tulisannya, metode, gaya kepenulisan , penggunaan istilah dll, itu adalah bagian dari perkembangan teknologi hari ini yang tidak bisa dibantah."

Pandangan ini membuka spekulasi bahwa setiap proses pembelajaran yang ditempuh oleh manusia tidak akan bisa dijangkau oleh teknologi sebab kompleksitas manusia itu sendiri sejak awal tidak akan tergantikan sekalipun dengan teknologi masa depan yang belum kita bayangkan kehebatannya. Manusia masih terpelihara dengan keistimewaan nya menjadi Khalifah dimuka bumi ini.

Masih dalam analisa yang coba kita Kulik bersama untuk memberi ruang netral pada reaksi dari fenomena besar abad ini. Kemunculan AI juga bisa memberi manfaat yang lebih besar dari sekadar kontradiktif masal akibat keterbatasan cara pandang manusia mengolah data berwujud pengalaman. Jelas tidak lazim mengukur argumen jika hanya mengandalkan data simplistik belaka dan mengesampingkan tinjauan dari data empiris.

Apabila kita meninjau kebelakang, fenomena seperti ini tidak terjadi pada era 5.0 ketika AI mulai marak digunakan saja. Orang-orang kompeten dan tidak kompeten memang dari dulu sudah saling melempar bola panas khususnya lewat argumen, subjektivitas persepsi dll. Belajar atau tidak belajar itu bukan lagi urgensi mutlak pada peristiwa semacam ini. Karena manusia sudah beranggapan bahwa belajar dan tidak, itu sudah bukan masalah krusialnya. Menurut Gus Nuktah Akbar, Lebih penting kita fokus kepada dasar awalnya. " Ilmu ada pada orang yang berkeilmuan, lalu bagaimana alat keilmuannya diterapkan. Kita juga perlu memperhatikan bahaya dari ilmu itu, yang sangat paradoks adalah ketika kita lupa dengan ilmu yang sudah kita ketahui. Ilmu yang juga kerap digunakan untuk mengejar popularitas, juga menjadi poin dasar yang kerap mencipta kerancuan tujuan seseorang dalam merawat peradaban".

Manfaat dari perkembangan teknologi jelas kita bisa cerna lewat data yang akhirnya gamblang kita pahami. Sementara masalah yang timbul karena perkembangan teknologi, tidak bijak disikapi dengan penolakan ekstrim yang berpotensi merubah haluan laju zaman untuk menuju peningkatan pencapaian. Sederhananya, kita harus terbuka dengan segala perubahan besar karena disetiap fasenya pasti ada entitas-entitas kecil yang selalu berjalan merawat keseimbangan. Misalnya dari pengaruh adat, budaya dan Agama.

Sejarah mencatat, peran adat, budaya dan agama terbukti selalu memunculkan kembali wacana juga keniscayaan untuk manusia tetap berkembang selaras dengan nilai-nilai kebaikan. Di Indonesia atau bahkan didunia, agen-agen tiga pilar ini terbukti konsisten menjaga keseimbangan peradaban manusia di setiap eranya. Misalnya saja Pesantren. Peran pesantren terbukti sangat signifikan terhadap tumbuhnya kesadaran manusia dalam beretika pada prinsip mengawal perkembangan zaman dan teknologi.

Korelasi diantara fenomena ini jika dibenturkan dengan Pesantren yang tak pernah lelah berjuang pada prinsip menghidupkan asa keseimbangan nilai dalam landasan pacu agama, maka kita akan diarahkan untuk tidak perlu khawatir dengan kondisi hari ini. Pesantren sebagai salah satu agen khusus yang membawa warna teduh lewat corak integrasi antara adat, budaya dan agama terbukti berhasil menyangga keseimbangan disetiap era peradaban.

Melalui orientasi pesantren yang sangat memprioritaskan prinsip mencipta sumber daya manusia berkualitas, Kita akhirnya dipaksa memahami bahwa berilmu itu harus menjadikan kepribadian yang menjunjung tinggi moralitas. Dimana moralitas adalah ruh bagaimana manusia memahami konteks dan isi dari prinsip manusia berkehidupan.

Agus. Muhammad Iqro Nuktah Akbar juga menegaskan bahwa " pesantren melestarikan keilmuan dengan orisinalitasnya yang teruji. Letak pesantren itu murni untuk menjaga orisinalitas keilmuan itu sendiri. Jadi peran pesantren tidak akan berubah sampai kapanpun kecuali prinsip dasarnya diselewengkan"

Dengan demikian, apakah masalah besar yang mengancam eksplorasi perkembangan ilmu pengetahuan akan lebih dominan dimasa depan? Jawabannya tidak. Setiap perubahan besar apalagi yang bersumber dari perkembangan teknologi, pada akhirnya juga bisa dimanfaatkan oleh pihak yang murni peduli dengan kondisi zaman agar tetap terhubung dengan hal-hal baik. 

Mengingat semakin majunya perkembangan teknologi di era ini dan yang akan datang, maka upaya untuk menumbuhkan kesadaran manusia mengawal laju perkembangan juga harus tetap dijaga. Pesimis dengan anugerah yang Tuhan berikan lewat kompleksitas komponen diri manusia, bukan kendala untuk memadamkan asa menumbuhkan kesiapan SDM guna menjalani kehidupan dengan era yang lebih pesat kemajuannya.

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post