Urgensi Bahasa Arab dalam Kemandirian Membaca Ibadah Bagi Umat Muslim

Melampaui lisan, menembus makna: urgensi Bahasa arab dalam kemandirian membaca ibadah muslim


Oleh Fiya Hamidatul Maula

Istilah membaca biasa kita artikan sebagai aktivitas melafalkan suatu deretan kata yang kita lihat. Padahal, secara umum, membaca tidak selalu identik dengan bersuara. Ada kalanya orang membaca dalam keheningan, membaca sesuatu tanpa bersuara. sebagian orang membaca pesan whatsapp lalu hanya meresponnya di dalam hati tanpa menulis balasannya, sebuah fenomena yang kerap kita kenal dengan kalimat “di read aja”. Contoh sederhana tersebut menunjukkan bahwa istilah membaca tidak hanya sekedar melafalkan bacaan, melainkan memahami makna yang disampaikan dalam kata. 

Membaca merupakan proses melihat dan memahami isi dari suatu teks tertulis, baik itu dilafalkan lisan ataupun dilafalkan dalam hati. Hakikat tertinggi membaca bukan terletak pada suara yang keluar, namun pada transfer makna dan bagaimana kita mampu mengambil maksud dari apa yang kita dapat. Oleh karena itu, jika mata kita menatap ribuan kata sedangkan pikiran kita kosong dan tidak mendapatkan pemahaman apapun, proses tersebut belum bisa diartikan sebagai membaca. 

Dalam Q.S. Al Alaq ayat 1 dijelaskan tentang perintah untuk membaca dan menuntut ilmu dengan menyebut nama Allah SWT. Ketika aktivitas tersebut ditarik ke ruang dimensi ibadah, seperti membaca al-qur’an, membaca bacaan ibadah sholat, atau dzikir, perlukah dilafalkan atau cukup dilakukan di dalam hati?

Berbeda dengan membaca novel atau pesan whatsapp, hukum islam memiliki batasan tegas terkait hal tersebut. Membaca dalam ranah ibadah tidak sah jika hanya dilakukan di dalam hati. Dalam situasi ini, lisan perlu melafalkan bacaan dan minimal menghasilkan suara lirih yang terdengar oleh diri sendiri. Sementara itu, membaca dalam hati saat ibadah hanya sebagai tadabur (merenungi kedalaman makna) yang mengiringi lisan agar ibadah tidak menjadi ibadah kosong.  

Sebagai seorang muslim, aktivitas qira’atul qur’an tentunya sudah menjadi kebiasaan yang mulia. Namun selama ini, apakah kita tahu apa yang kita baca? Apakah cukup jika hanya menyuarakan vocalnya saja? Ironisnya hal tersebut banyak terjadi di khalayak umum. Banyak sekali orang yang membaca al-quran tanpa meresapi maknanya sama sekali. Sedangkan, hakikat membaca sendiri adalah memahami maknanya. Sekali lagi proses tersebut belum cukup disebut sebagai membaca. 

Bahasa arab adalah Bahasa yang identik dengan ibadah keislaman. Ayat-ayat al-qur’an, bacaan-bacaan sholat, dan semua yang berkaitan dengan islam biasanya berasal dari Bahasa arab. Pengetahuan tentang Bahasa arab bagi seorang muslim sangat penting untuk menunjang proses kehambaan. Dengan pengetahuan Bahasa arab, proses qira’atul qur’an bisa sempurna karna kita dapat mengetahui makna yang terkandung dalam nash. hal tersebut juga bisa membangun kemandirian membaca seorang muslim, yaitu kondisi dimana mereka mampu memahami makna langsung bersamaan dengan lisan yang melafalkan. 

Membekali diri dengan pengetahuan Bahasa arab dapat menjadi Langkah awal dalam meningkatkan seni merayu tuhan. Setiap muslim harus memiliki kesadaran terhadap urgensi Bahasa arab dalam ritual kehambaannya. Melalui pengetahuan tersebut, seorang muslim tidak hanya sekadar melafalkan teks-teks keagamaan namun juga bisa membaca dan meresapi makna yang terkandung. Dengan begitu, proses membaca dapat benar benar disebut membaca. 

Berbekal pengetahuan Bahasa arab, ibadah sholat bukan hanya sekedar Gerakan yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam, melainkan menjadi dialog mendalam antara pencipta dan ciptaan-Nya. Membaca al-qur’an juga bukan hanya proses melafalkan ayat, namun wujud kekaguman akan keindahan kalam-Nya.

Prinsip-prinsip diatas adalah bagian dari perjalanan menuju upaya menyempurnakan ibadah kita kepada sang pencipta. Meskipun tidak ada anjuran mutlak bahwa setiap muslim wajib mempelajari bahasa Arab, untuk beberapa kalangan terpelajar hal ini menjadi wajib karena berkaitan dengan penyebarluasan informasi kepada umat dengan jangkauan yang lebih luas lagi. 

Bahasa Arab bukanlah bahasa umat muslim, bukan juga satu-satunya metode komunikasi dengan aktivitas religius maupun kajian teologi. Tapi bahasa Arab memiliki peranan penting dalam proses mencerna makna untuk kemudian memberikan pengalaman membaca Qur'an dan setiap kajian literatur keislaman agar lebih sempurna. Penekanannya adalah pada pondasi kaum-kaum terpelajar dan orang-orang yang mampu benar-benar mengupayakan sebuah langkah pengkajian mendalam untuk memberi dampak yang lebih besar terhadap pertumbuhan pemahaman islami seluruh umat.

Sampai disini kita harus mengerti pentingnya mempelajari bahasa Arab karena banyak sekali kajian-kajian keislaman yang bisa kita eksplorasi dengan memahami bahasa Arab itu sendiri. Dengan demikian, maka berarti kita turut andil dalam mengupayakan kaidah nilai-nilai filosofis dalam ajaran Islam bisa menyebar sangat luas dengan jaminan akurasi pemaknaan yang tidak asal-asalan.

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post