Oleh ; Rysky Firmansyah, S.Pd
Nilai kemanusiaan atau humanisme adalah bentuk representasi dari nilai dan norma yang mengakar pada prinsip bahwa setiap manusia memiliki derajat yang setara. Nilai ini mencuat kepermukaan beriringan dengan seluruh history panjang terkait sifat alami manusia. Menurut Komaruddin Hidayat ( 2019 ) Humanisme merupakan sebuah pemikiran filsafat yang kuat menghargai kapasitas manusia didalam mengukur dan menentukan konsep kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam hidup.
Menghargai, menjunjung tinggi hak-hak dasar hidup, terlibat langsung dalam menyebarluaskan nilai filosofi dari prinsip memanusiakan manusia, berarti inti sari dari kebersamaan dan bijaksana telah berhasil kita tumbuhkan.
Saat ini, manusia hidup disebuah zaman dimana prinsip, standar pemikiran lalu juga orientasi nilai kebenaran telah benar-benar samar untuk dicerna oleh akal telanjang. Nilainya benar-benar telah tertutup subjektivitas argumen, tertimbun relativitas sudut pandang dan telah dihujani banyak sekali reruntuhan ideologi kosong yang dasarnya tidak bersumber dari validitas mutlak pikiran bereaksi.
Dalam banyak literatur yang membahas nilai dasar kebenaran, kebenaran dibagi menjadi beberapa bentuk. Kebenaran menurut diri sendiri, kebenaran menurut orang banyak dan kebenaran mutlak yang datangnya langsung dari Tuhan melalui kitab-kitab suci sebagai pedoman manusia hidup. Sayangnya, proporsi dari masing-masing nilai kebenaran ini tidak bisa muncul dengan kuantitas serta kapasitas yang setara. Menyebabkan standar rancu dibanyak sekali kultur masyarakat sesuai dengan faktor-faktor pendukungnya. Sebut saja faktor sosiologis, faktor geografis, kultural, ekonomis, politis dan sebagainya, benar-benar menjadi pengaruh besar terhadap standar pemikiran manusia menjalani kehidupannya.
Kasus-kasus yang sering terjadi karena minimnya pemahaman manusia dalam mencerna nilai kemanusiaan tentu sangatlah banyak. Bentuknya bervariasi, kekerasan, kriminalitas, penyimpangan sosial dll. Melihat fenomena ini, tentu menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk membuka kembali wacana tentang nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Pertanyaan apakah salah adalah salah, benar adalah benar, apa itu salah, apa itu benar, memang sebaiknya kita tanyakan lagi dan renungkan kembali. Jika menurut kita sesuatu dikatakan salah apakah pasti menurut orang banyak juga salah? Sebaliknya, jika menurut orang banyak sesuatu dikatakan benar apakah itu merupakan kebenaran mutlak?. Sangat penting kita selalu belajar memahami setiap persoalan dalam kehidupan, khususnya pada hal-hal yang kerap berkaitan dengan sebuah perselisihan pemahaman. Karena manusia sejak awal dikaruniai akal dan nafsu sebagai bentuk keseimbangan mencerna peristiwa.
Imam Al Ghazali menyebutkan akal sebagai dimensi yang mampu mengartikan hakikat segala hal dan mampu mengolahnya menjadi keyakinan jernih kedalam hati seseorang. Menciptakan suatu prinsip fundamental kuat dalam berperilaku serta bereaksi dengan seluruh hal dalam kehidupan. Mempertimbangkan hal demikian, maka Menyeimbangkan antara nafsu yang sering kali mendorong reaksi secara menggebu dengan aksi yang berdasar pertimbangan matang, adalah kunci manusia mencapai titik rasional dalam penyeimbangan langkah menata kehidupan.
Bijaksana bukan soal mempertahankan apa yang menurut kita benar semata. Bijaksana juga mengupas bagaimana seseorang mengeja sebuah mindset tercipta. Selisih paham, merasa dirugikan, merasa sudah benar, benar-benar tidak bisa diproses menggunakan reaksi spontanitas tanpa proses filtrasi dengan hati dan akal yang tenang. Karena zaman semakin tak terarah, maka mengembalikan arah dari sisi terkecil adalah tanggung jawab kita sebagai manusia yang berakal.
