Bisakah Ta'dhim Disamakan dengan Feodalisme, Benarkah Demikian?

Mengapa Ta'dhim disamakan dengan Feodalisme, Benarkah Demikian?

( Oleh : Rysky Firmansyah, S.Pd )

Kehidupan santri di pesantren belakangan banyak disalah pahami oleh khalayak ramai. Di media sosial, banyak sekali spekulasi tentang pesantren terkait budaya didalamnya. Meski berita miring pesantren sebenarnya bukan persoalan baru, seiring ditemukannya penyimpangan-penyimpangan yang hadir dari kalangan pesantren dan viral, akhirnya memicu gelombang narasi berbau sarkasme dilingkup pesantren dari banyak pihak. Diantara gelombang narasi miring itu, muncul istilah feodalisme pesantren dengan arah opini yang sangat memprihatikan.

Pada penggunaan bahasa sehari-hari di Indonesia, kata feodalisme digunakan untuk mendefinisikan perilaku yang mirip dengan perilaku penguasa kolot dan selalu ingin dihormati. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Feodalisme adalah sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang besar pada golongan bangsawan. Maka istilah feodalisme pesantren dapat kita artikan sebagai bentuk perilaku Kyai, Guru, Pengurus Pesantren atau siapapun yang menjadi pengganti peran orang tua di keluarga, harus mendapatkan perlakuan istimewa dari para santri sebagai wujud penghormatan mutlak kepada mereka.

Melalui viralnya istilah ini, secara tidak langsung pesantren benar-benar mendapat desakan dari banyak kalangan untuk meluruskan pandangan liar ini. Tak bisa dipungkiri, publik juga akhirnya banyak yang memberi nilai negatif kepada dunia pesantren saat ini. Isu ini pun menyebar semakin luas karena media sosial dengan mudahnya menyebarkan informasi tanpa proses penyaringan matang lewat algoritmanya.

Lalu benarkah budaya santri menghormati kyai atau gurunya adalah bentuk dari feodalisme?  Dalam tradisi ulama, sudah sejak lama sikap santri yang menghormati, patuh kemudian memuliakan gurunya disebut dengan istilah ta'dhim. Ini bukan soal membalas budi atau itung-itungan jasa semata. Lebih dari itu, santri mengenal istilah ta'dhim ini sebagai wujud sikap yang didasari oleh keyakinan kuat tentang adab sebagai kunci keberhasilan meraih keberkahan serta manfaat dari belajar ilmu agama.

Bukti kuat bahwa Ta'dhim bukan Feodalisme adalah pada prinsip dasarnya. Feodal menekankan pada prinsip penguasa minta dihormati karena kekuasaannya, sedangkan ta'dhim menekankan santri menghormati karena mereka percaya bahwa keberkahan ilmu hadir jika ada adab sebagai perwujudan nilai belajar yang sesungguhnya.

Karena pesantren sejak awal memang sudah menempatkan adab sebagai pencapaian mutlak utama santri didalam proses belajar ilmu agama, maka implementasi dari adab ini sudah sepantasnya menjadi aktivitas yang familiar para santri untuk menyempurnakan proses belajarnya. Biar bagaimanapun, santri adalah insan-insan yang datang belajar ilmu agama dengan niat ikhlas mencari ridho Allah SWT.

Mengapa Ta'dhim disamakan dengan Feodalisme, Benarkah Demikian?
Seperti yang telah diriwayatkan oleh Al-Imam Baihaqi, Sahabat Umar bin Khattab mengatakan " Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian. Lalu Imam Malik rahimullah pernah berkata juga " Aku belajar adab selama tiga puluh tahun dan belajar ilmu selama dua puluh tahun, dan aku berharap seluruh waktuku itu menjadi adab semata" (Jami' Bayanul 'Ilmi wa Fadlih , jilid 1, halaman 80). Dari para tauladan kita, adab murid terhadap guru adalah yang utama. Maka ta'dhim bukan semata-mata hanya budaya yang lahir dari kebetulan semata. Ini adalah budaya yang lahir dari generasi-generasi yang luar biasa dan mereka memahami bahwa kesejatian ilmu harus dibingkai dengan adab sampai kapanpun.

Budaya adab di pesantren umumnya juga tidak seekstrim apa yang sering dinarasikan oleh media anti pesantren, menunduk dihadapan Kyai atau Gurunya, mencium tangan, membalikan atau menata alas kaki gurunya, sangat berhati-hati dalam berkomunikasi sekalipun itu adalah untuk mengoreksi kesalahan gurunya, dan lain sebagainya. Feodalnya disebelah mana?

Bukankah kita perlu memahami bahwa setiap hal yang dilakukan dan bahkan menjadi budaya dalam kelompok-kelompok tertentu pasti memiliki nilai filosofinya masing-masing?. Menjadi catatan penting bagi kita untuk membuka kembali wacana berpikir tentang respon harus didasari oleh data yang valid.  Jangan sampai kebencian pada akhirnya membawa kita pada jurang penyesalan karena dampaknya bisa lebih buruk dari apa yang kita kira.

Menarasikan ta'dhim dalam lingkup pesantren sebagai bentuk feodalisme bukan hanya memberi Label buruk pada ruang pendidikan agama yang terbukti memberi andil besar dalam tatanan masyarakat. Apa jadinya jika suatu saat adab benar-benar hilang karena ruang-ruang yang membina itu semua kerap disudutkan pada giringan opini tanpa dasar pertanggungjawaban.

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post