Oleh : Asfa Kahila (XI B) & Nurul Fadilah (IX B)
Pesantren adalah tempat yang terkenal dengan kegiatan religinya. Selain itu pesantren juga dikenal dengan metode pembelajaran yang masih tradisional. Banyak masyarakat yang beranggapan jika orang-orang di dalam pesantren adalah orang-orang yang tertinggal dan tidak mengikuti perkembangan yang ada. Apakah pada kenyataannya memang demikian?
Walaupun pesantren masih menggunakan metode pembelajaran klasikal, tapi justru lewat metode inilah akhirnya santri dapat dengan mudah merealisasikan segala proses pembelajaran kedalam hidup mereka sehari-hari. Contohnya ketika santri mengaji, kemudian mereka menghafal, membaca dan memahami sebuah kitab. Secara otomatis santri-santri itu akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Entah itu kajian mengenai ilmu fikih, adab dan lain sebagainya.
Dengan pembatasan aktivitas gadget dan internet, akhirnya santri dengan sangat mudah memahami seluruh pembelajaran berbasis agama yang mereka pelajari. Bukan tanpa alasan, buktinya diluar pesantren, anak-anak yang diberi akses tidak terbatas pada penggunaan gadget dan internet justru mengalami kesulitan dalam mengembangkan skil dan pengetahuan akademik mereka karena terlalu kecanduan aktivitas digital mereka.
Dengan kata lain, sistem pembelajaran berbasis klasikal inilah yang membuat santri ( dalam hal ini masih remaja ) akhirnya dapat lebih fokus pada fondasi diri dan lebih konsentrasi mengembangkan pengetahuan serta kemandirian mereka yang nantinya akan sangat berguna dimasa depan.
Tidak hanya ilmu agama, pesantren juga mengajarkan kemandirian. Karena umumnya anak yang hidup di dalam pesantren adalah anak usia remaja (12-17 tahun). Mereka sudah dituntut untuk hidup jauh dari keluarga. Walaupun jauh dari keluarga, anak-anak dalam pesantren merasakan hangatnya kebersamaan yang diciptakan oleh eratnya tali persaudaraan antara satu santri dan santri yang lain. Hal ini juga dikarenakan para santri selalu melakukan pekerjaan secara bersama-sama.
Meski aktivitas digital tidak melulu membawa pengaruh buruk, tetapi mengenal lebih dalam tentang ilmu-ilmu yang datangnya dari sumber-sumber terpercaya dengan pendampingan guru atau figur profesional membuat seseorang lebih memahami nilai-nilai filosofis dari apa yang mereka pelajari. Kontrol serta perhatian mendalam dari pengasuh dalam mendampingi para santri menimba ilmu agama, juga merupakan sebuah nilai tambah yang pasti dirasakan manfaatnya kelak.
Perlu diketahui bahwa pesantren juga mengajarkan lifeskill yaitu hidup dengan kemampuan yang kita miliki seperti mencuci sendiri, memasak sendiri, memanajemen waktu, dan lain-lain yang dapat kita lakukan secara mandiri. Hal ini dapat membentuk karakter dan kemandirian yang membentuk mental kuat. Selain itu, pesantren juga mengajarkan ilmu agama yang nantinya akan menjadi bekal hidup.
Di pesantren para Kyai juga mengajar dengan metode talaqqi yaitu langsung disampaikan atau diajarkan dari Kyainya sendiri melalui bandongan / ngaji pasaran. Inilah yang membedakan mutlak antara realitas pesantren dengan segala sesuatu yang disediakan oleh google atau internet manapun. Sehingga sampai kapanpun, santri akan dipastikan memiliki garis keilmuan yang nyambung dengan sanad keilmuan ke Nabi Muhammad SAW.
