A.Pendahuluan
Ekologi mindset merupakan cara berpikir yang melihat pendidikan seperti ekosistem. Saling terhubung antara manusia, budaya, teknologi dan alam sekitar. Muara dari konsep besar ini adalah untuk mencipta individu yang tidak hanya pintar, tapi juga menjaga keseimbangan semua aspek kehidupan untuk menjangkau perkembangan yang ideal.
Pendidikan merupakan fondasi utama bagi kemajuan suatu bangsa. Pendidikan tidak hanya sebagai instrumen untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul. Pendidikan juga menjadi pilar strategis dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Salah satu indikator yang diprioritaskan ialah menyediakan ruang terbuka guna mendukung keberlangsungan aktivitas pendidikan. Berbagai metode pun ikut disertakan agar tercipta kualitas berpikir kritis.
Melalui pembiasaan berpikir kritis, manusia mampu mengembangkan pemikirannya menjadi suatu perubahan yang signifikan. Perkembangan teknologi juga membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, sehinggan proses pendidikan tidak hanya mengandalkan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, tetapi juga melalui sarana digital. Komputer, smartphone, dan berbagai platform digital lainnya adalah contoh media yang akrab digunakan saat ini. Selain memberi kemudahan, perkembangan teknologi juga menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi. Perkembangan teknologi akhirnya bukan hanya menjadi tantangan tetapi sekaligus peluang untuk pembenahan sistem pendidikan.
Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia mengemukakan, “Pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat”. Dari pernyataan tersebut sudah diketahui bahwa adanya pendidikan itu merupakan suatu hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup. Setiap komponen dalam pendidikan tentunya berpengaruh besar untuk masa depan seseorang. Ilmu pendidikan yang diajarkan sejak dini hingga saat ini, dapat menumbuhkan rasa adaptif dalam bermasyarakat.
Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang pesat telah membawa perubahan yang menonjol di kalangan tenaga pendidik. Kehadiran teknologi mampu mempermudah mendapat informasi secara singkat dan cepat, cara pengajaran yang baik, hingga materi berkomunikasi yang bijak terhadap siswa. Platform digital juga sebagai fasilitas pendukung yang dapat diakses tanpa adanya keterbatasan ruang dan waktu. Sehingga tenaga pendidik mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif dan interaktif sesuai kebutuhan siswa.
Namun, adanya perkembangan teknologi mengakibatkan berbagai tantangan. Peserta didik dengan mudah mendapat informasi tidak benar tanpa ada penyaringan terlebih dahulu. Peserta didik juga kerap kehilangan karakter yang membiaskan peran budaya dalam menyelami proses perkembangan kognitif dan kompetensinya sebagai generasi penerus bangsa. Pada akhirnya berpeluang mencipta kesenjangan hubungan antara manusia dan alam sekitarnya.
Menurut Yudi Latif (2025), Pendidikan adalah pembudayaan, kebudayaan adalah napas pendidikan. Jadi tanpa budaya, pendidikan hanya omong kosong yang membuat seseorang menjadi cerdas otak, akan tetapi miskin karakter dan kehilangan akar. Pada pandangan yang relatif sama, Howard Gardner (2023), menyatakan bahwa pendidikan sejati haruslah mengakomodasi berbagai kecerdasan manusia. Misalnya seperti linguistik, matematis, visual - spasial, dan interpersonal. Secara tidak langsung jika pendidikan terpusat pada pemanfaatan teknologi secara dominan, akan menimbulkan ketergantungan terhadap kemudahan teknologi. Sejatinya, yang urgent dan perlu diprioritaskan adalah tata cara pemanfaatan teknologi seefisien mungkin. Pemanfaatan teknologi secara tepat diharapkan dapat mendukung pendidikan yang profesional. Pendidikan di era digital juga perlu mempersiapkan peserta didik yang memilik pengetahuan, kemampuan, keterampilan dalam beradaptasi dan membangaun perubahan di masa depan tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai insan berbudaya.
Masalah
Di tengah perubahan global yang pesat, sistem pendidikan nasional dituntut untuk adaptif, responsif, dan relavan dengan kebutuhan zaman. Meski demikian, berbagai indikator menunjukkan bahwa Indonesia masih mengupayakan dalam memperbaiki kualitas dan efektifitas sistem pendidikannya. Indonesia telah melakukan reformasi pendidikan selama dua dekade. World Bank mencatat beberapa reformasi besar, salah satunya telah ditetapkan kewajiban alokasi 20% anggaran pemerintah untuk pendidikan. Dalam penelitian Service Delivery Indicators (SDI) Indonesia 2020 yang dilakukan World Bank atas permintaan pemerintah Indonesia, penelitian pemerintah Indonesia, peneliti mengamati 350 sekolah di seluruh Indonesia.
Masalahnya, masuk sekolah belum tentu berarti benar-benar belajar. Rata-rata siswa kelas 4 tertinggal sekitar 1,5 tahun dari tingkat pembelajaran yang diharapkan. Hanya 28% siswa kelas 4 yang mampu menbaca pada tingkat yang diharapkan di kelasnya. Bahkan laporan world Bank menekankan Indonesia perlu memperkuat koordinasi pemerintah pusat-daerah. Memastikan siswa memperolah guru yang berkualitas serta meningkatkan akuntabilitas. Apakah sistem pendidikan Indonesia benar-benar menjadi alat mobilitas sosial jika kualitas dan durasi pendidikan masih sangat dipengaruhi kondisi ekonomi keluarga?
Analisis Masalah
Pendidikan Indonesia masih mengalami berbagai masalah dalam perkembangan digital ini. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai terkait sistem pendidikan. Kondisi tersebut mengakibatkan kesempatan pembelajaran menjadi terhambat dan tidak merata. Hal ini menimbulkan minimnya siswa dengan perkembangan yang sesuai di tingkat kelasnya. Faktanya masih banyak siswa yang kurang mampu memenerima materi dikarenakan kurangnya sarana pendukung pembelajaran.
Selain masalah fasilitas, terkait anggaran juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam dunia pendidikan. Kondisi ekonomi keluarga sangat mempengaruhi keberlangsungan seorang peserta didik dalam melanjutkan jenjang pendidikannya. Melihat fenomena seperti ini, tentunya pemerintah mengatasi dengan menciptakan suatu program yang meringankan anggaran. Jika kedua faktor telah dioptimalkan, secara tidak langsung akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki potensi yang berprestasi dalam mewujudkan perubahan.
Solusi dan Gagasan
Sekolah merupakan sarana penyangga ilmu yang berperan sebagai tempat menyaring berbagai pemikiran. Hal ini berkesinambungan dengan pendapat John Dewey, seorang psikolog dan tokoh pendidikan asal Amerika Serikat yang sangat berpengaruh dalam perkembangan dunia pendidikan modern. John menyebut “Pendidikan berkaitan erat dengan pengalaman, sekolah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekedar persiapan kehidupan”. Artinya kita tidak hanya bersekolah untuk persiapan saja, tetapi juga harus ada hasil nyata yang dapat difungsikan dalam kehidupan selanjutnya.
Indonesia tidak hanya memerlukan orang pintar, tetapi juga memerlukan sumber daya manusia yang mempunyai integritas, empati, tanggung jawab, ketekunan, serta keberanian menghadapi perubahan. Pendidikan sebagai jalan pemerataan kesempatan, tentunya dapat menjadi lowongan relasi untuk menciptakan perubahan yang signifikan. Kemampuan bekerja sama juga harus menjadi dasar dalam diri seseorang. Saat ini, pendidikan memfasilitasi ruang praktik serta proyek penelitian teknologi yang dapat difungsikan dalam upaya pengembangan diri seseorang. Tentu saja upaya tersebut mampu menghasilkan suatu langkah kemajuan yang baik menuju perubahan berskala nasional.
Indonesia masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang berpendidikan, tetapi generasi yang mampu menggunakan pendidikannya untuk menciptakan perubahan. Kita ketahui bersama bahwa perkembangan Artificial Intelegent memungkinkan untuk merubah tatanan masyarakat dengan menggeser peran vital manusia untuk menggerakkan sektor industri besar yang pasti berdampak pada kestabilan ekonomi global. Apabila penempatan peran pendidikan masih pada konsep pemahaman lama, (pendidikan hanya dijadikan media untuk mendapat pekerjaan saja) jelas situasi dan kondisinya sudah tidak relevan. Sudah menjadi hal wajib, seseorang memahami esensi dari nilai pendidikan itu sendiri. Berkarya untuk menginspirasi melalui sarana sosial dan budaya, menempatkan pendidikan sebagai titik awal, bukan tujuan akhir, dan memahami bahwa perkembangan kompetensi diri bisa dijangkau lewat pendidikan. Adalah konsep yang harus ditarik menjadi generalisasi pemahaman masyarakat era Society 5.0 ini. Oleh karena itu, pendidikan harus senantiasa bergerak dari sekedar transfer pengetahuan menuju pengembangan diri, pembentukan keberanian untuk menghasilkan gagasan, dan kemampuan untuk mengubah gagasan tersebut menjadi tindakan nyata.
Berbagai tindakan relevan dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti menganalisis masalah di sekitar, mengembangkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi serta kemampuan adaptasi di era digitalisasi. Mengingat media digital saat ini menjadi sarana utama bagi sebagian besar manusia dalam memenuhi kebutuhan. Hari ini Kita dapat membuat platform sederhana untuk berbagi informasi dan membantu masyarakat dengan memberi dampak konkret terciptanya peningkatan taraf hidup. Contoh sederhananya seperti menyeimbangkan produksi konten positif agar media digital tidak didominasi oleh konten bernuansa negatif saja, kemudian kita juga bisa membantu UMKM terkait marketing digital, memberi edukasi tentang berbagai fenomena dari pemanfaatan media sosial. Karena kemajuan teknologi tanpa karakter yang bersumber dari pedoman nilai-nilai dasar, dapat menghasilkan peradaban dengan keabsurdan dinamikanya.
Menciptakan sebuah perubahan juga dapat dimulai dari lingkungan sekitar. Berperan menjadi tutur sebaya, dengan cara membentuk kelompok belajar. Upaya ini dapat bermanfaat dan membantu setiap yang membutuhkan. Selain itu, dapat diupayakan juga dengan membuat gerakan literasi sederhana bagi siapapun yang berminat untuk bergabung. Seperti beberapa contoh real yang tak kalah ramai adalah maraknya pelajar memulai kontribusinya melalui pembuatan video konten berbasis pendidikan. Sehingga banyak orang yang terinspirasi dari video konten tersebut.
Belum lama ini terdapat suatu berita yang menggemparkan sekaligus membanggakan. Prestasi gemilang di kancah internasional kembali ditorehkan oleh innovator muda Indonesia dalam ajang “World Invention Competition and Exhibition” (WICE) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Tim pelajar dari SD Xaverius 01 kota Jambi sukses bawa Gold Medal berkat inovasi lingkungan yang bejudul “Effectiveness of Eco-Enzyme Cocnut Briquette as Water Filtration Media in Jambi City”. Mereka berhasil mengolah batok kelapa menjadi Briket eco-enzyme yang berfungsi sebagai media penyaringan air alternatif. Inovasi mereka dinilai sangat kreatif dan aplikatif untuk menyediakan solusi air bersih murah bagi masyarakat perkotaan yang terdamapak polusi air.
Selain inovasi sebagai alternatif, terdapat suatu berita yang tak kalah membanggakan. 14 remaja Indonesia berhasil meraih gelar “Ashoka Young Change Maher 2025” dengan tema solusi isu disabilitas hingga energi. Mereka melakukan kontribusi nyata dalam menciptakan perubahan sosial di lingkungan sekitar. Melakukan pengenalan Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) interaktif, pencegahan kekerasan seksual di pesantren, ketahanan bencana, hingga menciptakan Kawasan bebas rokok. 14 remaja tersebut berhasil mewujudkan gerakan “everyone a change maker” dengan membekali para remaja jaringan global, bimbingan strategis, serta panduan program agar inovasi mereka dapat berdampak luas. -Berita ini dikutip dari media Jakarta Tempo.com
Kedua fenomena tersebut merupakan contoh aksi nyata dalam manciptakan sebuah perubahan. Keduanya mampu menjadi bukti Indonesia memiliki sumbar daya manusia yang mampu bersaing di era saat ini. Artinya, para pelajar Indonesia berhasil menanamkan kesadaran diri serta keberanian untuk menciptakan perubahan dengan memanfaatkan ilmu, teknologi, dan kemampuan yang mereka miliki. Jika hal itu terus dioptimalkan, presentase kualitas pendidikan di Indonesia akan menghasilkan peningkatan berskala besar. Pencapaian seperti inilah yang mampu membawa Indonesia menuju ‘Indonesia emas’ dimasa depan.
Kisah inspirati juga datang dari artis wanita terkenal Indonesia. Ia mampu mengubah pengalaman pendidikannya menjadi sebuah aksi dan dukungan bagi setiap generasi. Di kutip dari media Kompas.com. setelah perjalanan panjangnya menempuh pendidikan, Maudy Ayunda sebagai figur publik Indonesia berhasil memotivasi para generasi muda untuk selalu berusaha dalam hal pendidikan. Di balik karirnya yang cemerlang, terdapat hambatan yang justru menjadi langkah awal menuju kesuksesan. Kisah Maudy Ayunda mengajarkan bahwa bukan hanya seberapa tinggi seseorang belajar, tetapi seberapa jauh pengetahuan dan kesempatan yang diperolehnya dapat dikonversi menjadi perubahan bagi orang lain. Hal ini menjadikan Maudy Ayunda sebagai salah satu tokoh inspiratif Indoneisa dengan pencapaian yang berhasil diraih.
Bukankah arah mencapai kemajuan generasi seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan kita guna mencapai esensi dari nilai pendidikan?. Banyak generasi muda yang bisa kita jadikan contoh untuk benar-benar memberi dampak positif bagi perkembangan kualitas hidup masyarakat secara luas. Yang harus dilakukan adalah memulai setiap plan positif untuk menjangkau titik ideal sebagai generasi penerus bangsa.
Penutup
Visi besar Indonesia tidak dapat diraih hanya dengan bersandar pada retorika gagasan di atas kertas. Transformasi gagasan harus dimulai dari akar melalui pembenahan pada sistem pendidikan yang inklusif serta penguatan pengembangan diri generasi muda. Melalui penerapan teknologi dan tindakan nyata yang konsisten tanpa meninggalkan nilai-nilai kebudayaan, seperti literasi digital, pelajar bukan lagi hanya sekedar objek pembangunan, tetapi aktor utama pendidikan. Hal ini dapat mengubah generasi Indonesia menjadi kiblat aktor perkembangan peradaban ideal.
Artinya, pendidikan memang bukan sepenuhnya sebagai sarana mengubah dunia. Pendidikan tetapi mampu mengubah mindset seseorang ke arah yang lebih dekat dengan jangkauan masa depan. Melalui pendidikan yang telah ditempuh, manusia akan mampu mengubah dunia dengan setiap kontribusi nyata tanpa meninggalkan hal-hal esensialnya. Perubahan tidak cukup dimulai dari memiliki ide atau gagasan, tetapi dari kesadaran untuk memahami persoalan dan kemudian merealisasikannya. Melalui pemanfaatan teknologi yang bijak, kita mampu melahirkan kompetensi individu yang mapan. Seperti ekosistem yang membutuhkan keseimbangan, pendidikan era Society 5.0 butuh integrasi antara teknologi (digital), budaya (akar) dan realisasi. Faktor-faktor inilah yang cukup kuat membangun satu kesatuan demi tercapainya generasi emas Indonesia.
-Langkah awal menuju Indonesia Emas 2045.
Daftar Pustaka
Kompas.com [2026, 25 september]. Maudy Ayunda kuliah apa?ini riwayat pendidikannya. Kompas.com. URL
LPP RRI [2026, 08 JULI]. Gen Z jambi buktikan kreativitas sulap limbah bathok kelapa. LPP RRI. URL
Tempo.com [2025, 26 mei]. 14 remaja raih gelar Ashoka Young Changemaker 2025. Tempo.com. URL
Latif, Y. (2025). Pendidikan yang berkebudayaan: Menyelami gagasan dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Gardner, H. (2023). A Synthesizing Mind: A Memoir from the Creator of Multiple Intelligences Theory (Revised ed.). Cambridge MA : MIT Press.
