Pondok pesantren Al-Inaaroh baru saja melaksanakan acara sambangan pada Sabtu, 5 September 2026. Acara yang rutin digelar setiap bulannya untuk kali ini terdapat sedikit perbedaan. Pasalnya ini adalah sambangan pertama untuk santri baru kelas VII MTs yang umumnya harus melewati fase empat puluh hari terlebih dahulu.
Sambangan sendiri dalam budaya pesantren adalah waktu dimana santri bisa dibesuk/ dijenguk orang tua/ walinya ke pesantren untuk melepas rindu yang sudah disimpan beberapa waktu sejak anak masuk ke pesantren. Sambangan sendiri dalam bahasa Jawa berarti menyambangi. Budaya ini sudah dilaksanakan sejak dahulu disetiap pondok pesantren. Meskipun pada prakteknya, setiap pesantren memiliki sistem dan aturan masing-masing. Bisa mengenai waktunya atau ketentuan lainnya.
Pada sambangan kali ini, pihak pondok pesantren Al-Inaaroh menghendaki agenda sambangan dibagi menjadi dua tahapan. Pertama di laksanakan hari Sabtu untuk santri putra, dan kedua dilaksanakan hari Minggu ,6 September 2026 untuk santri putri. Konsep ini dilakukan untuk memberi ruang yang lebih kondusif, karena setiap sambangan pertama untuk santri baru, sering kali dihadiri oleh wali santri dengan rombongan yang lebih banyak dari biasanya. Jelas untuk efisiensi acara, hal ini dirasa relevan agar proses sambangan ini berjalan lancar.
Wali santri dijadwalkan datang ke pondok pesantren mulai pukul 08.00 WIB, dan bisa meninggalkan pondok setelah rangkaian acara selesai hingga waktu ngaos bersama pengasuh (Abah KH. Muhammad Luthfi) di pukul 20.30 s/d 21.30 WIB . Sejak pagi, para wali santri terpantau sudah tiba di pondok khususnya para wali santri baru ( kelas VII) yang dalam momen ini terasa sangat spesial. Maklum saja, ada beberapa diantara wali santri yang mengaku ini adalah kali pertama mereka memondokkan anaknya.
Acara pagi tentu seperti pada umumnya. Mulai dari acara rahatan antara santri dengan orang tuanya, kemudian forum bersama wali kelas untuk sharing perkembangan anak di pesantren dan lain-lain. Kemudian di sore hari, sekitar pukul 13.00 s/d 15.00 WIB, ada forum pertemuan wali santri bersama pengasuh (Umi Nyai Hj. Nurhayati dalam acara ngaos bersama).Saat acara ngaos sore di masjid asrama putra Pondok Pesantren Al-Inaaroh, Umi Nyai Hj. Nurhayati mengisi forum ini dengan memberi beberapa arahan kepada segenap wali santri yang hadir. Dalam sambutan yang diberikan, Umi Nyai Hj Nurhayati menyampaikan beberapa statemennya " Ibu adalah pawangnya santri, jadi ketika ada hal-hal diluar kendali mengenai santri, tidak boleh dicap jelek. Hal paling baik adalah dengan mendoakan dan mendukung saja ".
Umi Nyai. Hj Nurhayati juga menyoroti tentang beberapa aspek krusial santri putra. Menurutnya, perkembangan psikologis anak laki-laki harus disikapi dengan bijak oleh orang tua. Bukan tanpa alasan, laki-laki yang merupakan calon pemimpin di masa depan tentu harus mendapatkan perhatian yang berbeda dengan perhatian terhadap anak perempuan.
" Pada dasarnya kenakalan anak laki-laki itu hanya sebagai bentuk pelampiasan semata, bukan merupakan kenakalan yang murni dari diri mereka sendiri. Dan yang harus dipahami kita semua adalah mutlaknya sikap untuk ketika mereka berbuat salah, kita wajib percaya mereka bisa menyelesaikan persoalan-persoalan mereka sendiri" ujarnya.
Sekadar informasi, sambangan dengan tenggat waktu setelah empat puluh hari pertama hanya dilakukan bersamaan dengan proses adaptasi santri baru saja. Kedepannya akan dilaksanakan rutin disetiap bulannya. Apabila ada perubahan, akan diinformasikan kepada wali santri lewat forum komunikasi di masing-masing grub wali santri.
Acarapun berjalan dengan baik, hingga reportase ini diterbitkan tidak ada kendala serius dalam pelaksanaan kegiatan sambangan khususnya untuk santri putra Sabtu, 5 September 2026 ini. Sementara untuk agenda sambangan santri putri, akan dilaksanakan dengan rangkaian serupa besok di hari Ahad, 6 September 2026 di asrama putri Pondok pesantren Al-Inaaroh.

