Melihat Karya Santri Lewat Bab Kritik Sastra ( antara keteladanan dan kejelian mengapresiasi karya)

 

Melihat Karrya Santri Lewat Bab Kritik Sastra ( antara keteladanan dan kejelian mengapresiasi karya)

Kritik sastra merupakan sebuah karangan prosa non fiksi yang menjadikan kaya fiksi sebagai objek pembahasannya. Dalam beberapa tulisan, kritik sastra sering digunakan sebagai karangan referensi, untuk pembaca menentukan kecocokan makna  sebuah karya sastra. Tidak hanya itu, kritik sastra juga memiliki fungsi utama dalam membangun kualitas setiap karya sastra pada umumnya. Tanpa kritik sastra, karya-karya yang lahir dari jutaan sastrawan tidak mungkin berkembang menyesuaikan latar dan waktu dibuatnya.

Membahas tentang kritik sastra, dalam mata Pelajaran Bahasa Indonesia, bab ini masuk pada pembahasan kelas XII semester ganjil. Di Ma Takhassus Al-Inaaroh, para santri diajak juga untuk membuat sebuah karangan kritik sastra. Berikut Adalah contoh karyanya.

Antara Rindu diujung senja dan Cinta tak terlihat

 

       Sofia, seorang mahasiswi yang kebingungan menghadapi pemuja rahasia. Sosok misteri pengagum yang muncul terus menerus hingga menghantui Sofia. Ketenangan hidupnya di kampus terusik karena ia menyadari adanya kehadiran pemuja rahasia yang terus mengikutinya secara samar.Kejadian aneh ini mulai memuncak ketika Sofia sedang menghabiskan waktu di kantin kampus.Tempat yang menjadi latar penting dimulainya ketegangan psikologis yang ia rasakan.

    Rindu di Ujung Senja adalah sebuah kumpulan cerpen yang mengajak pembaca merenungi perasaan-perasaan paling mendalam tentang kehilangan, harapan, dan cinta yang tak pernah padam. Dalam setiap cerita, penulis menggambarkan kisah-kisah manusia yang saling mencari, bertemu, dan merindu di tengah berbagai peristiwa hidup yang kadang tak terduga.

         Paragraf pertama mengisahkan tentang perjalanan emosiaonal seorang tokoh utama yang menyimpan perasaan cinta yang sangat mendalam kepada seseorang, namun memilih menyembunyikan secara rapat. Perasaan itu dinamakan “tak terlihat” karena tidak pernah sekalipun diucapkan, tidak ada wujud kemesraan yang kasat mata, dan dipendam untuk menjaga kebahagiaan orang yang dicintai. Tokoh utama menjadi pemuja rahasia yang selalu memperhatikan dari kejauhan, dan menelan rasa sakit ketika melihan orang yang dicintai memberikan cintanya kepada orang lain. Kasih sayang yang tidak terlihat ini apakah akan menjadi rasa egois untuk memiliki?. Ia menyadari bahwa cinta tidak harus berakhir  menjadi miliknya, cinta yang tak terlihat itu menjadi sebuah keikhlasan jiwa, yang dimana orang yang sangat ia cintai bahagia meski bukan dengan dirinya.

 Paragraf kedua menceritakan tentang seseorang yang menyimpan kerinduan mendalam kepada orang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Setiap senja mengingatkannya pada kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama. Meski waktu terus berjalan dan keadaan telah berubah, rasa rindu itu tetap ada dan sulit dilupakan. Tokoh utama akhirnya menyadari bahwa tidak semua pertemuan berakhir dengan kebersamaan. Ia belajar menerima kenyataan, mengikhlaskan masa lalu, dan menjadikan kenangan sebagai pelajaran berharga untuk melangkah menuju masa depan. Cerita ini mengangkat tema tentang cinta, kerinduan, kehilangan, dan keikhlasan dalam menerima takdir.

Menurut kami Cerpen "Cinta Tak Terlihat" berfokus pada pergolakan batin seseorang yang memendam rasa cinta dalam diam dan mengandalkan ketulusan tanpa harus memiliki. Sebaliknya, cerpen "Rindu di Ujung Senja" menyoroti dinamika kerinduan, penantian, dan perpisahan yang dibingkai oleh suasana melankolis di bawah temaram langit sore. Jika cerpen pertama lebih menonjolkan aspek psikologis personal dan rasa dari kejauhan, cerpen kedua menggunakan simbol keindahan alam untuk merefleksikan memori masa lalu serta keikhlasan dalam menunggu waktu yang tepat.

Kedua cerpen ini sangat bagus, akan tetapi masih banyak ditemukan dialog-dialog berlebihan. Dimana prinsip dasar menulis cerpen haruslah mendominankan narasi daripada dialog.  Selain itu, mengangkat sisi psiklogis yang dalam, tidak lazim jika terlalu dibahasakan menggunakan suasana-suasana spesifik ( minim tafsir ) karena setiap pembaca memiliki selera rasa mereka masing-masing.

Jadi meskipun beberapa kekurangan ini lumayan menonjol, lewat penggunaan Bahasa puitis yang sering muncul dalam cerita, juga runtutan peristiwa yang tidak dibiarkan hilang salah satu partnya sangat diperhatikan. Penulis akhirnya mampu membawa cerita ini pada kelayakan yang baik.

Kelompok : 1. Astrid Alta Funniza

                    2 . Dina Cahya A.

                    3. Ariska Rozaq T.

                    4. Qirani Nazila S.A

 

ANALISIS KARYA CERPEN TEMA KELUARGA: “BUNGA DARI IBU”  DAN “KELUARGA YANG MENANGIS PADA DINI HARI”

   Bunga Dari Ibu merupakan karya sastra berbentuk cerpen yang dikarang oleh Puthut Ea. Karya ini menceritakan tentang hubungan erat seorang anak dengan ibunya. Membuktikan kekuatan hubungan darah yang nyata. Menggambarkan interaksi yang tak pernah lenggang meskipun jarak menghalangi.

   Keluarga yang Menangis pada Dini Hari menceritakan tentang seorang Ayah yang tidak ingin anaknya bernasib sama dengannya. Karena dirinya merasa kecewa dengan apa yang dijanjikan oleh Ayahnya tidak dapat diwujudkan. Dari kecil memendam cita cita menjadi arsitek dan berkuliah di ITB, tapi harus mengubur impiannya setelah Ayahnya meninggal yang akhirnya menyisakan utang keluarga. Keadaan ekonomi memaksanya berhenti mengejar pendidikan tinggi sampai suatu keadaan mengubahnya menjadi pegawai negeri.

 

   Cerita Bunga Dari Ibu berisi tentang kehidupan kompleks seorang anak yang disertai banyak masalah. Menghadirkan perjalanan hidupnya yang sulit. Namun ia selalu bisa menerima setiap kondisi dan kesulitan yang dihadapi. Contohnya saat kedua orang tuanya bercerai, mereka tetap bisa menjalin interaksi harmonis. Hal tersebut terbukti dalam kutipan “Hubunganku dengan Ibu dan Bapakku tetap hangat meskipun mereka telah bercerai. Mereka berdua juga masih tetap meberi semangat, juga ketika tahun tahun kecewa menderaku”. Kehidupan sang anak tetap bisa berjalan dengan baik karena ia selalu mengomunikasikan semua masalahnya pada sang Ibu. Begitupula sebaliknya, mereka berdua tak memiliki rahasia yang disimpan sendiri. Semua pahit serta manisnya cerita selalu mereka keluhkan satu sama lain.

   Kisah Keluarga yang Menangis pada Dini Hari menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Sejak kecil ia bercita cita menjadi arsitek, terinspirasi oleh pesan Ayahnya yang ingin melihatnya berkuliah di ITB seperti Soekarno. Namun, penyakit menyebabkan Ayahnya meninggal, ia berusaha menerima kenyataan dengan berjualan telur demi menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Pengalaman pahit tersebut membentuk cara pandang Ayah terhadap masa depan sang anak. Ayah rutin bangun pukul dua dini hari untuk solat tahajud dan berdoa agar anaknya tidak mengalami kesulitan yang sama, seperti dalam kutipan Karena itu bapak rajin solat tahajud. Agar harapanya tercapai dan anaknya tidak hidup menderita seperti dirinya”.

  Kedua cerita menunjukkan bahwa setiap keluarga memiliki masalah yang berbeda-beda. Akan tetapi mereka mempunyai cara masing-masing untuk melaluinya. Kedua cerpen tersebut memiliki konflik yang hampir sama. Hanya saja konflik dalam cerita Bunga dari Ibu bersifat lebih kompleks. Keluarga yang Menangis pada Dini Hari memiliki tata bahasa yang lebih mudah dipahami. Sedangkan Bunga dari Ibu menggunakan cerita kiasan sehingga membuat pembaca harus lebih berpikir agar memahami maksud alurnya.

 

Nama Kelompok

-Arsa Naura

-Ikrima Maydinta

-Reisya Reiyana

-Shila Mariska

 

 

Nah, itulah beberapa contoh tulisan dari santri kelas XII MA Takhassus Al-Inaaroh. Jika ada yang mau diungkapkan atau ditanyakan, bisa komen dengan bijak di bawah ya. Kita selalu menantikan kmen-komen yang membangun kualitas kita secara terbuka. Dan jangan lupa, nantikan karya santri-santri Al-Inaarh berikutnya.

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post