Menyingkap Kabut Wacana, Pendidikan Lebih Luas Dari Sekadar Proses Formalitas Menuju Masa Depan Maju Peradaban Manusia

Menyingkap Kabut Wacana, Pendidikan Lebih Luas Dari Sekadar Proses Formalitas Menuju Masa Depan Maju Peradaban Manusia

Oleh M. Asyam dkk

Disunting oleh tim redaksi berandaalinaaroh.com

Pendidikan merupakan pilar utama suatu bangsa dalam mencetak generasi yang unggul. Lewat Pendidikan, suatu generasi dapat mengembangkan potensi diri ke pencapaian yang lebih kopleks. Selain menjadi pilar utama dalam mencetak generasi unggul, Pendidikan juga merupakan kebutuhan pokok setiap manusia. Tentu saja karena lewat Pendidikan, manusia dapat menempuh sebua perjalanan dari yang sebelumnya tidak tau, menjadi tau.

Menurut John dewey, pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar secara fundamental, baik intelektual maupun emosional terhadap alam dan sesama manusia. Sedangkan menurut Prof. H. Ahmad D. Marimba menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya pribadi yang utama.

Dengan demikian, pendidikan mutlak adalah pondasi utama yang menentukan arah suatu bangsa secara umum, dan pondasi pokok manusia untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi. Di Indonesia, setiap warganya diwajibkan untuk paling tidak menempuh Pendidikan formal selama dua belas tahun. Yaitu dari tingkat Pendidikan dasar hingga menengah atas. Kebijakan ini didasari oleh rendahnya rata-rata tingkat Pendidikan di masyarakat setelah negara ini berkembang. Lantas bagaimana realisasi dari program ini sekarang ? Apakah Indonesia memungkinkan menjadi negara dengan SDM yang berkualitas dimasa depan? Lalu seperti apa Islam sebagai agama yang paling banyak dipeluk oleh masyarakat kita memandang kedudukan pendidikan itu sendiri?

Faktanya sampai saat ini, banyak generasi muda yang putus sekolah akibat lebih memilih bekerja dari pada sekolah. Dikarenakan anak muda sekarang memiliki mindset yang absurd, yaitu lebih memilih memiliki uang dari pada pendidikan yang tinggi. Meski tidak semua berpikir demikian, pemahaman ini terasa sangat familiar dikalangan masyarakat kita akibat kekeliruan mencerna prinsip dasar hidup secara struktural. Padahal Pendidikan itu bisa membuat seseorang memiliki banyak peningkatan, salah satu yang utama adalah terkait eksplorasi nilai-nilai kebenaran dalam keidupan.

Dalam islam, anjuran menempuh Pendidikan sangat wajib. Sesuai dengan sabda nabi Muhammad SAW, “ mencari ilmu itu wajib bagi setiap umat islam” dari situ kita bisa memahami bahwa Pendidikan memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam menghindari kebodohan.

Dalil lain tentang pentingnya Pendidikan terdapat pada surah at thoha ayat 114 “ maka maha tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Alqur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah : Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan. "

Banyak sekali anjuran dalam islam yang mewajibkan setiap umatnya untuk menempuh Pendidikan sebagai landasan hidup agar terhindar dari ketidak tahuan.  Ki Hajar Dewantara juga pernah menyampaikan bahwa pendidikan adalah usaha pokok untuk memberi nilai-nilai kebatinan dalam budaya rakyat kepada generasi muda. Selain sebagai pemelihara budaya, pendidikan bertujuan memajukan dan mengembangkan kehidupan kemanusiaan kearah lebih baik.

Sejauh ini harusnya kita paham, dengan segala problematika yang telah dilalui kita sebagai masyarakat bernegara dan sebagai manusia yang berakal, pendidikan menjadi urgensi mutlak kebutuhan manusia lebih dari alasan pragmatis yang hanya dipahami secara awam oleh keegoisan kita semata. Melalui pembangunan kesadaran ini, harusnya kita mulai berpikir untuk bagaimana mencipta realisasi konsep mindset tentang pentingnya pendidikan bagi kita semua.

Yang perlu diingat sebagai perwujudan dari nilai filosofis sebuah pemahaman sudut pandang, adalah istilah bahwa pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi tingkatan sekolah yang pernah seseorang tempuh. Pada akhirnya kita harus menyinggung soal makna mendalam dari sebuah proses pembelajaran yang sepatutnya tidak dipandang sempit oleh keterkaitan-keterkaitan general semata. Sekolah, ijazah, gelar akademik dan sebagainya hanyalah kepingan kecil dari proses pendidikan. Sebab pendidikan memiliki arti dan peran yang jauh lebih kompleks dari sekadar itu.

Untuk memperdalam analisa bahasan kali ini, tentu kita perlu menengok seperti apa kesadaran akhirnya dipaksa selaras dengan suguhan fakta bahwa pendidikan bukan menyoal nasib karir masa depan, gengsi sesaat, dan kapasitas pengetahuan palsu tanpa dasar yang kompleks. Pemimpin-pemimpin yang hari ini terlibat dalam skandal pelanggaran nilai dan norma sosial juga bahkan nilai kemanusiaan, adalah potret bahwa pendidikan tidak diukur dari poin-poin receh tadi. Karena jelas secara akademik pasti mereka pernah bersekolah, mendapat gelar akademik dan memiliki syarat lengkap merawat gengsi status sosial masyarakat. Tapi apakah nilai utama dari proses pendidikan itu muncul pada mereka? Tentu saja tidak. Tidak sama sekali!

Di sepenggal bait macopat Jawa, ada pedoman yang berbunyi " ngelmu iku kelakone kanthi laku " belajar / memperdalam ilmu itu realisasinya pada perilaku. Terkesan awam dan menyedihkan kalau sampai detik ini wacana pendidikan hanya diarahkan pada orientasi praktis yang tak mungkin berdampak besar pada kehidupan manusia agar lebih baik. Sudah sepantasnya kita buka kembali wacana dan literatur hasil pemikiran kritis para pendahulu kita. Pendidikan adalah motor penggerak perbaikan peradaban manusia.

Kesimpulannya,  baik secara filosofi, budaya dan agama. Semua elemen itu menyepakati kedudukan pendidikan jauh diatas penafsiran awam yang tidak sampai pada pemberian manfaat menyeluruh terhadap tumbuhnya kebaikan dalam kehidupan manusia. Pendidikan adalah pokok utama, pendidikan adalah pilar utama, pendidikan adalah motor penggerak menuju perbaikan kualitas hidup peradaban manusia. Penyempitan analisa adalah pembodohan terhadap tumbuhnya kesadaran manusia menuju keterbukaan referensi guna mencapai titik muara yang lebih luas. 

Indonesia harus bangkit, harus benar-benar memperhatikan setiap detail kecil mencerna makna pendidikan untuk menuju kemajuan. Intimidasi dialektika dan pembatasan ruang berpikir terkait kemajuan pendidikan negeri ini harus selesai menjadi kenangan selamanya. Masa depan harus ditata mengarah pada hal-hal magis sejalan dengan filosofi pendidikan dalam hidup manusia

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post