Rumah untuk Ayah

Rumah untuk Ayah

oleh : amel nada

Konon, laut tidak pernah benar-benar mengambil manusia. Ia hanya mengubah mereka menjadi sesuatu yang baru. Namun, tidak semua manusia yang datang kepadanya datang dengan hati yang ingin berubah. Ada yang datang karena ingin melihat dunia dari kejauhan. Ada yang datang karena ingin mencari ketenangan. Dan ada pula yang datang karena hatinya telah terlalu penuh oleh luka.

Ayah adalah diantaranya. Dia dilukai lalu memilih jatuh kepelukan laut. Angin meniup rambut peraknya. Ombak datang dan pergi, seperti berusaha membujuknya untuk tetap tinggal di daratan. Tapi luka di dalam dadanya jauh lebih keras daripada suara ombak. 

Ibu jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Bersama pria pemilik kebun anggur di ujung desa ia diam-diam menyimpan cinta dari pandangan dunia. Namun busuk tetaplah busuk, baunya akhirnya sampai ke penciuman ayah. Ayah tahu perempuan yang selama ini ia cintai telah memberikan hatinya kepada orang lain.

Sejak saat itu, sesuatu di dalam diri ayah seperti tenggelam. Tatapannya kosong, senyumnya semakin jarang, dan hari-harinya dipenuhi kesunyian. Ruth tidak benar-benar mengerti bagaimana rasanya dikhianati oleh seseorang yang dicintai. Ia masih terlalu muda untuk memahami mengapa satu kesalahan mampu membuat seseorang kehilangan arah. Yang ia tahu hanyalah bahwa ayah sedang terluka. Dan Ruth tidak pernah pandai meninggalkan ayah sendirian.

Pada suatu sore, ketika langit mulai kehilangan warna, ayah berjalan menuju laut. Ruth mengikutinya dari belakang seperti yang selalu ia lakukan. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang terjadi setelah itu. Ayah terjun ke laut. Ruth meraung memanggil ayah sebelum akhirnya dia terjun. Jika ayah pergi, ia juga akan pergi. Jika ayah tenggelam, ia tidak ingin ayah tenggelam sendirian.

Dunia di atas perlahan menjauh. Ruth tersedak air asin tapi dia rasa dia bisa bernapas. Dia pikir dia mati, tapi laut ternyata memiliki cerita lain. Ketika membuka mata Ruth telah bersiap bahwa yang dihadapinnya adalah alam setelah kematian, tapi yang ia lihat masih air. Ruth tidak lagi menemukan kedua kakinya. Sebagai gantinya, sebuah ekor berkilauan bergerak mengikuti arus air. Tubuhnya telah berubah menjadi makhluk laut. Orang-orang darat memanggilnya duyung.


*


Ruth berenang mencari Ayah. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa laut begitu luas. Jauh lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan ketika masih menjadi manusia. Tidak ada jalan, tidak ada rumah, tidak ada suara manusia. Hanya arus yang bergerak tanpa arah dan cahaya yang semakin lama semakin redup. Ia terus berenang hingga akhirnya, di antara reruntuhan karang, ia menemukan Ayah. Ayah masih hidup. Tubuhnya terbaring di atas pasir putih, rambut peraknya mengambang perlahan mengikuti arus. Ekor yang kini menjadi bagian dari tubuhnya bergerak lemah. Ia membuka mata ketika Ruth mendekat.

“Ayah”, Ruth berkata. Dia bersimpuh di dekat ekor ayah.

“Kemari, Nak” mereka saling memeluk. Dalam luasnya lautan kini mereka hanya mempunyai satu sama lain.

Setelah lama berdiam mereka akhinya menyusuri dinding-dinding gelapnya lautan. Lama menyusuri mereka kemudian menemukan sebuah kawanan duyung. Mereka hidup di antara bangkai kapal yang tersebar di dasar laut. Kapal-kapal tua yang dahulu membawa manusia kini menjadi rumah bagi mereka yang telah berubah menjadi makhluk laut. Ruth dan ayah memutuskan menghampiri kawanannya. 

Di sana, Ruth pertama kali bertemu dengan Argus. Ia adalah pemimpin kelompok itu. Argus memiliki ekor yang besar dan tubuh yang lebih kuat daripada kebanyakan duyung lain. Tatapannya selalu membuat siapa pun yang melihatnya merasa sedang berada di hadapan seseorang yang lebih tinggi derajatnya. Ia tidak menyukai pendatang. Terlebih lagi pendatang yang dahulu adalah manusia. Ruth dan Ayah tetap mencoba mendekat. Mereka membantu mencari makanan, ikut menjelajahi laut, dan berusaha memahami aturan hidup yang sama sekali berbeda dari kehidupan mereka sebelumnya. Namun usaha mereka tidak pernah cukup bagi Argus. Ia selalu menemukan alasan untuk menjaga jarak. Bagi Argus, kelompok adalah milik mereka yang telah lebih dahulu berada di sana. Bukan milik Ruth pun ayah. 

Ketika kelompok mereka menemukan sebuah bangkai kapal yang masih kokoh, kawanan makhluk laut itu bersemangat. Kapal itu cukup besar untuk menampung seluruh anggota kelompok. Ruangan-ruangan di dalamnya masih utuh. Beberapa jendela bahkan masih memiliki kaca yang tidak pecah. Kapal itu adalah rumah yang selama ini mereka cari. Ruth sudah membayangkan sebuah sudut kecil untuk dirinya dan Ayah. Namun ketika seluruh kelompok berkumpul di depan kapal, Argus berdiri di antara mereka dan pintu masuk.

“Cari tempat kalian sendiri” Argus berkata

Kalimat itu terasa seperti pintu yang dibanting tepat di depan wajahnya. Ruth menoleh kepada Ayah. Ia berharap melihat kemarahan tapi tidak ada. Ruth masih mengingat bagaimana Ayah hanya menundukkan kepala ketika mereka diusir. Tidak ada amarah pun perlawanan. Ia hanya membawa Ruth pergi menjauh dari kapal itu. Mungkin Ayah sudah terlalu lelah untuk memperjuangkan tempat di dunia. Atau sejak pengkhianatan ibu, ia sudah tidak merasa memiliki tempat di mana pun.

Pada akhirnya mereka kembali tidur di sebuah kapal kecil yang sebagian besar tubuhnya telah dimakan karang. Ruth memandangi Ayah yang terlelap. Ia bertanya-tanya sejak kapan kesedihan bisa membuat seseorang terlihat begitu rapuh. Maka malam itu Ruth berjanji pada diri sendiri, segera ia temukan rumah untuk ayah.

Hari-hari kian maju, Ruth mulai berenang lebih jauh. Ia meninggalkan kawanan untuk sementara dan menjelajahi bagian laut yang belum pernah ia datangi. Ia melewati hutan ganggang yang bergoyang seperti tirai, gua-gua gelap yang dipenuhi cahaya dari makhluk-makhluk kecil, hingga kapal-kapal yang telah lama terlupakan manusia. Ia mencari rumah. Tapi rumah tidak pernah semudah itu ditemukan. Ada kapal yang terlalu kecil. Ada kapal yang telah dipenuhi karang. Ada pula kapal yang sudah menjadi tempat tinggal kawanan lain. Semakin jauh Ruth berenang, semakin dia menyadari bahwa laut mungkin tidak pernah berniat memberikan sesuatu dengan mudah. Tetapi Ruth tetap mencari. karena selalu ada wajah ayah yang ia ingat di balik setiap pencariannya. Laki-laki yang kehilangan cintanya di daratan dan keinginannya untuk hidup, masih mampu memastikan Ruth mendapatkan makanan lebih dulu daripada kawanan duyung.

Di satu hari, seekor bintang laut mengikuti Ruth. Awalnya, ia tidak menyadari hal itu. Setiap kali Ruth berhenti, bintang laut kecil berwarna jingga itu menempel pada bebatuan. Saat Ruth kembali berenang, ia berpindah lagi. Ruth menganggapnya sebagai kebetulan pada hari pertama. Hal itu terulang di hari berikutnya dan Ruth mulai curiga.

Bintang laut itu berbicara. Suaranya tipis seperti bisikan yang terbawa arus. Ia memberitahu Ruth bahwa sebuah kapal terbesar pada zamannya akan melewati perairan mereka. Kapal itu cukup besar untuk menjadi rumah bagi Ruth dan Ayah, tetapi untuk mendapatkannya, kapal tersebut harus ditenggelamkan.

“Aku tidak mampu” Ruth berkata putus asa. Ruth tidak tahu bagaimana seekor duyung dapat menenggelamkan kapal sebesar itu.

“cobalah memakai trisula milik aquaman” Bintang laut kembali meyakinkan

Kedengarannya seperti rencana yang gila, ia pergi mencari trisula tersebut. Perjalanan itu membawa Ruth ke wilayah laut yang belum pernah ia datangi. Ia harus menyusuri arus yang deras dan menghindari tempat-tempat yang dijaga, hingga akhirnya trisula itu berhasil berada di tangannya ketika ia mendapati aquaman sedang berada di daratan. Benda itu terasa berat ketika digenggam.

Beberapa waktu kemudian, kapal yang diceritakan bintang laut itu akhirnya muncul. Dari kejauhan, Ruth melihat sebuah kapal raksasa membelah permukaan laut dengan angkuh. Ukurannya jauh lebih besar daripada bangkai kapal mana pun yang pernah ia lihat. Di bagian depan kapal itu tertulis nama Titanic.

Ruth mengangkat trisula dan mengarahkannya kepada kapal tersebut. Dalam sekejap, laut yang semula tenang berubah menjadi liar. Arus berputar semakin kuat, gelombang menghantam lambung kapal, dan Titanic perlahan kehilangan keseimbangannya. Ruth hanya bisa menyaksikan kapal itu miring sebelum akhirnya tenggelam semakin dalam hingga mencapai dasar laut.

Tanpa diketahui Ruth, Titanic membawa muatan ilegal yang seharusnya tidak pernah melewati perairan tersebut. Barang-barang itu ikut terkubur bersama kapal, laut sengaja menelan seluruh rahasia yang dibawa manusia.

Para awak kapal mulai keluar dari dalam Titanic dalam keadaan panik. Sedikit lucu melihat mereka kocar-kacir takut mati, padahal laut kembali menunjukkan aturan yang sama seperti ketika Ruth dan Ayah pertama kali terjatuh ke dalamnya. Tubuh manusia itu perlahan berubah, kaki mereka berganti menjadi ekor, dan satu per satu mereka menjadi duyung.

Ruth mendekati mereka yang masih kebingungan dengan perubahan tubuhnya. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan dunia dalam satu malam dan terbangun sebagai sesuatu yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Karena itu, melihat mereka tidak memiliki tempat untuk pergi, Ruth membawa mereka menuju Titanic dan mempersilakan mereka tinggal di sana.

“Kalian tinggallah di sini, kita berbagi tempat”

Kapal yang awalnya ia cari untuk Ayah kini menjadi rumah bagi banyak orang. Ruth tidak merasa keberatan, sebab ia tahu bagaimana rasanya pontang-panting di lautan.

Ketika Ruth akhirnya membawa Ayah melihat rumah baru mereka, lelaki itu hanya terdiam memandangi Titanic yang kini terbaring di dasar laut. Lambung kapal mulai ditumbuhi karang dan ikan-ikan kecil berenang melewati jendela-jendelanya. Ruth memperhatikan wajah Ayah yang perlahan berubah, ada senyum terukir. Ayah masih menghargai pemberian Ruth.

Ruth mungkin tidak mampu menghapus luka yang ditinggalkan Ibu, tetapi setidaknya ia berhasil memberikan Ayah sesuatu yang selama ini hilang darinya, sebuah tempat untuk pulang.

Di dasar laut itu, jauh dari daratan dan segala luka yang pernah mereka tinggalkan, mereka melanjutkan hidup.

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post