Diary Kegelisahan, Seperti Apakah Masa Depan Menempatkan Peran Kemampuan Manusia

Diary Kegelisahan, Seperti Apakah Masa Depan Menempatkan Peran Kemampuan Manusia


Oleh : Anindhiya

Masih membekas di ingatan saya saat pertama kali tertarik belajar Photoshop. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Berbeda dengan sekarang, ketika hampir semua hal dapat dipelajari lewat internet, waktu itu saya harus minta dibelikan buku tutorial Photoshop terlebih dulu sama bapak saya. Buku itu menjadi satu-satunya sumber saya untuk belajar. Saya membaca penjelasan tentang too;s apa aja yang digunakan, mencoba mengikuti langkah-langkah yang tercantum di buku, lalu mempraktikkannya sendiri di komputer.

Mungkin bagi saya yang sekarang sudah menjadi mahasiswa teknologi informasi, pengalaman itu mungkin tampak sederhana. Namun, saat saya mengingatnya lagi, saya sadar bahwa sudut pandang dan cara saya mencari ilmu sudah berubah cukup banyak.

Naik ke dari sekolah dasar,ketika saya masuk pesantren (MTs dan MA) sekaligus menjadi santri, saya masih bertahan dalam metode belajar dengan membaca buku. Ketika menemukan hal yang membuat saya bingung, saya membuka LKS atau buku pelajaran terkait lalu mencoba mencari jawabannya sendiri. Jika saya nggak menemukan jawaban lewat buku terkait, saya akan bertanya kepada guru atau teman.

Sebenarnya ada hal menarik dari proses itu, dengan kita bertanya kepada orang lain, mereka tidak selalu memberi satu jawaban yang sama. Guru sudah pasti punya banyak cara sendiri dalam menjelaskan. Teman bisa menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Disini hal menariknya, terkadang dari satu pertanyaan muncul fakta baru atau topik pembicaraan lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Dari sini akan muncul diskusi-diskusi ya g menjamah topik-topik lain, semuanya bisa muncul berawal dari pertanyaan yang kita tanyakan ke guru ataupun teman.

Dengan kata lain, proses mencari jawaban pada waktu itu tidak selalu berhenti ketika kita mendapatkan jawaban. Satu jawaban malah bisa memunculkan pertanyaan baru.

Setelah itu, internet mulai masuk ke kehidupan sehari-hari. Salah satu perubahan paling besar bagi saya adalah munculnya Google. Saat saya tidak tahu tentang sesuatu, saya bisa langsung mencarinya, dan langsung mendapat jawaban. Nggak perlu menunggu bertemu guru, juga nggak perlu menunggu teman yang kemungkinan nggak tahu jawabannya. Saya juga nggak perlu khawatir kalau tidak ada orang di sekitar yang bisa menjelaskan apa yang sedang saya pikirkan.

Saya cukup mengetik pertanyaan, lalu berbagai informasi muncul di layar.

Saat itu saya merasa kagum, dan juga merasa semuanya akan jadi lebih mudah. Google membuat saya lebih mandiri dalam mencari pengetahuan. Dulu, saya butuh bantuan orang lain untuk hal-hal tertentu. Sekarang, saya bisa mulai sendiri.

Namun, semakin lama saya menggunakan internet dalam proses belajar, saya menyadari bahwa teknologi tidak hanya mengubah tempat kita mencari informasi. Teknologi juga perlahan mengubah kebiasaan kita dalam belajar.

Hal itu semakin saya rasakan ketika saya menjadi mahasiswa teknologi informasi. Di dunia IT, menemukan hal yang belum diketahui adalah sesuatu yang biasa. Saat membuat program lalu menemukan error, saya mencari solusinya di internet. Saat mempelajari teknologi baru, saya membaca dokumentasi, menonton tutorial, mencari pengalaman orang lain, lalu mencoba mempraktikkannya sendiri.

Pada akhirnya, saya makin terbiasa dengan satu pola sederhana. Jika tidak tahu, cari tahu.

Lalu, artificial intelligence atau AI itu muncul.

Jika sebelumnya Google membantu saya menemukan informasi, AI memberikan pengalaman yang agak berbeda. Ngmak cuma encari informasi, saya juga bisa langsung berdiskusi dengannya. Ketika menemukan error dalam kode, saya bisa menjelaskan masalahnya lalu minta bantuan untuk memahami penyebabnya. Ketika mendapat tugas dan belum menemukan ide, saya bisa berdiskusi untuk mencari berbagai kemungkinan. Ketika mempelajari suatu hal baru dan penjelasannya saya rasa sulit, saya bisa meminta AI untik membuat penjelasan yang lebih sederhana.

Sebagai mahasiswa IT, tidak jarang saya memakai AI dalam proses belajar.

Di satu sisi, saya pernah berpikir. "Kalau teknologi seperti ini sudah ada sejak dulu, mungkin belajar akan jauh lebih mudah."

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan lain.

Apakah sesuatu yang menjadi lebih mudah selalu membuat kita menjadi lebih baik?

AI memang membantu kita untuk menemukan dan memahami informasi dengan cepat. Namun, kemudahan ini bisa jadi pisau bermata dua. Kadang, hal yang sebenarnya masih bisa kita pikirkan sendiri malah langsung kita tanyakan pada AI. Kadang, rasa penasaran yang seharusnya mendorong kita untuk mencoba dan mencari tahu malah berubah mejadi keinginan untuk mendapat jawaban secepat mungkin.

Menurut saya, tantangan terbesar dalam menggunakan teknologi untuk belajar ada di sini.

Masalahnya bukan di "boleh atau tidaknya" kita memakai AI. Teknologi akan terus berkembang dan sudah jadi bagian dari hidup kita. Yang lebih penting adalah cara kita memakainya.

AI sebaiknya menjadi alat yang membantu kita belajar. Bukan malah mengambil alih proses berpikir kita.

Belajar bukan cuma soal mendapat suatu nformasi. Belajar adalah proses ketika kita merasa penasaran tentang sesuatu, lalu mencoba memahami bagaimana sesuatu itu bekerja.

Kalo menurut saya tuh, rasa haus terhadap pengetahuan biasanya dimulai dari pertanyaan sederhana:

"Ini cara kerjanya bagaimana ya?"

Pertanyaan itu bisa muncul dari hal yang sangat sederhana. Kita melihat sesuatu. Kita merasa penasaran. Lalu kita mulai mencari tahu. Kita membaca. Kita bertanya. Kita mencoba. Kadang kita salah. Kadang apa yang kita coba tidak berhasil. Setelah itu, kita mencari tahu lagi.

Kita tidak hanya mengonsumsi informasi. Kita juga mengulik, membongkar, mencoba, gagal, lalu kembali mencari tahu.

Mungkin itu sih yang bikin proses belajar jadi lebih menarik.

Kalo "ngendiko" -nya socrates, "I know that I know nothing." Bagi saya, maqolah beliau ini bukan berarti seseorang tidak tahu apa-apa. Sebenarnya, ini menunjukkan bahwa seseorang sadar masih ada banyak hal yang belum ia ketahui.

Semakin banyak yang kita pelajari, kadang kita makin sadar. Kalo dunia tuh, ternyata jauh lebih luas dari yang kita bayangin.

Dulu saya mencari ilmu lewat buku. Lalu saya belajar dengan bertanya kepada guru dan teman. Setelah mengenal internet, saya mulai terbiasa mencari jawaban lewat Google. Sekarang, sebagai mahasiswa teknologi informasi, AI juga saya jadikan sebagai alat sekaligus partner yang pakai untuk belajar.

Alatnya terus berubah.

Cara mencarinya terus berkembang.

Tetapi ada satu hal yang seharusnya tidak berubah. Keinginan untuk terus belajar.

Teknologi bisa membuat proses mencari ilmu jadi lebih cepat. Google bisa memberi kita akses ke jutaan informasi. AI bisa membantu menjelaskan sesuatu dalam hitungan detik. Tapi pada akhirnya, semua itu hanya alat.

Kita sendiri yang menentukan apakah kita benar-benar belajar atau hanya sekadar mendapat jawaban.

Karena menurut saya, "tidak tahu" bukan akhir dari percakapan.

Dari situlah pencarian mulai.

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post