Keberhasilan Gen-Al-Inaaroh wasath dalam dua kehidupan

Keberhasilan Gen-Al-Inaaroh wasath dalam dua kehidupan

oleh : Fiya Khamidatul

Secara umum, Santri merupakan sapaan untuk orang yang belajar ilmu agama dipondok pesantren. Bukan hanya seorang pelajar, santri juga agent of change dalam masyarakat yang memadupadankan spiritualitas dengan realitas sosial. Dengan begitu, sejatinya santri adalah pemegang kemudi peradaban, menuntun menuju shiratal mustaqim.

Gen AI (Generasi Al-Inaaroh) ada sejak 2017 dan keseluruhannya adalah penduduk asli dunia digital. Mereka memilih menjadi santri karena banyak faktor; mulai dari dorongan orang tua, kemauan sendiri, hingga keterpaksaan yang berujung terbiasa. Lalu, bagaimana mereka menempatkan diri menjadi santri sekaligus gen z dalam satu periode perjalanan?

Santri yang dikenal lekat dengan nilai-nilai tradisional kepesantrenan harus sigap dengan siklus trend gen z yang silih berganti. Gen AI sebagai santri sekaligus gen z, mampu menyeimbangkan dimensi pesantren dengan dimensi digital tanpa mengabaikan salah satunya. 

Terlahir menjadi bagian dari gen z dan menyandang status santri merupakan pencapaian yang amat membanggakan. Hal ini terjadi karena banyak tantangan besar yang harus dihadapi. Sebagai gen z tentunya mereka ingin menikmati masa muda tanpa regulasi, beban, paksaan dan kekangan. Mereka menginginkan segala sesuatu berjalan instan dan hidup sesuai standar yang mereka harapkan. Sedangakan di dimensi lain, mereka juga mengemban amanah menjadi santri. Dimana mereka hidup dalam ruang religius yang dipenuhi oleh peraturan dan tanggung jawab moral. 

Perbedaan tersebut yang kemudian menjadi problem di kehidupan keduanya. Antara harus tetap menjaga moralitasnya sebagai santri atau hanya mendalami seni sebagai digital native yang menguasai teknologi. Santri gen z sering terjebak dalam kegundahan krisis identitas, mereka merasa seperti harus memilih salah satu dari keduanya untuk dikendalikan. Padahal mereka mampu menyatukan dimensi pesantren dan digital. Perpaduan tersebut dapat dijadikan sebagai media keberhasilan santri gen z.

Gen Al-Inaaroh tidak menganggap perbedaan tradisi klasik kepesantrenan dan keberagaman lifestyle gen z saat ini sebagai hambatan untuk mengembangkan diri. Sebaliknya, mereka menjadikannya panggung pembuktian identitas yang membanggakan, yaitu menjadi santri taat sekaligus menjadi gen z keren.

Nilai-nilai luhur yang diajarkan di pesantren menjadikan mereka pribadi yang memahami arti hidup sesungguhnya. Prinsip tawazun, tawadhu dan qonaah telah mereka amalkan setiap hari di pesantren. Dengan demikian, ketika gempuran trend gen z yang mencuat dapat mereka hadapi dengan penuh kendali.

Generasi Al-Inaaroh membuktikan bahwa menjadi santri tidak selamanya identik dengan kata gaptek, kolot,dan tertinggal. Di saat mayoritas gen z lainnya sibuk mencari validasi semu atas pencapaian mereka, Gen AI justru mampu membawa tagline santri gen z dengan keren bahkan membungkam stigma keliru terhadap dunia pesantren. Mereka berhasil menunjukkan sebuah identitas baru yang luar biasa, membuktikan bahwa spiritualitas kepesantrenan dan modernitas digital dapat saling menguatkan.

Kemampuan mereka menyelaraskan keduanya, membentuk mereka menjadi pribadi yang ahli dalam segala medan dan cakap lintas zaman. Generasi yang tidak hanya fasih melantunkan ayat-ayat keagamaan, tetapi juga mampu memeluk kemajuan peradaban. Oleh karena itu, Generasi Al-Inaaroh menunjukkan keberhasilan bersikap washat dalam dua kehidupan, yaitu dunia pesantren dan dunia digital.

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post