Toleransi sebagai Dasar Terciptanya Keharmonisan Ruang Hidup


Toleransi sebagai Dasar Terciptanya Keharmonisan Ruang Hidup

Oleh : Afgan, Akmal dkk (kelas XII A, MA Takhassus Al-Inaaroh)

Pendahuluan

Secara umum, toleransi diartikan sebagai sikap saling menghargai dan menghormati keberagaman. Kalau kita membahas toleransi, yang pertama kali muncul di pikiran pasti soal toleransi beragama atau yang biasa disebut pluralisme, toleransi antar suku, ras, maupun budaya. Memang begitu kan? Tapi pembahasan kali ini tidak hanya mengarah pada ruang lingkup yang sempit, melainkan lebih luas lagi.

Menurut Abu Muslim dan Al-Qaffal yang merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 256, keimanan itu didasarkan pada pilihan sadar, bukan karena paksaan. Sedangkan menurut Hijerm et al. (2020), toleransi adalah orientasi nilai terhadap perbedaan, di mana seseorang memiliki rasa menerima, menghormati, dan menghargai keanekaragaman budaya yang ada di dunia.

Jadi, toleransi bisa diartikan sebagai sikap manusia untuk saling menghargai perbedaan karena pada dasarnya setiap orang berhak hidup sesuai keinginannya, selama tetap mengikuti norma yang berlaku di masyarakat. Bahkan dalam pandangan agama, toleransi itu adalah sebuah perintah. Contohnya dalam Islam, pada zaman Rasulullah SAW, beliau pernah diminta oleh orang-orang Kristen untuk menyembah tuhan mereka, dan sebagai imbalannya mereka akan menyembah tuhan beliau. Namun Rasulullah menolaknya, karena turun firman Allah SWT dalam Surat Al-Kafirun ayat 1-6, yang intinya kita tidak boleh menyuruh orang yang berbeda agama untuk menyembah tuhan kita, begitu pun sebaliknya, karena prinsipnya "agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku". Hal ini sejalan dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, yang artinya setiap warga Indonesia berhak memilih agama sesuai kepercayaannya dan hidup tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Itu adalah bentuk menghargai keberagaman Indonesia, yang secara tidak langsung juga merupakan wujud toleransi. Dan bukan hanya Islam, semua agama pasti mengajarkan umatnya untuk bertoleransi karena itu adalah hal yang baik.

Pembahasan

Ketika toleransi sudah tercipta, maka akan lebih mudah untuk membangun keharmonisan ruang hidup. Secara singkat, harmoni itu bermakna selaras, sejalan, dan serasi. Kalau dijabarkan lebih luas, harmoni adalah kondisi di mana setiap individu bisa menjalani hidupnya dengan rukun, saling tolong-menolong, tentram, aman, dan damai tanpa ada konflik yang dipicu oleh keberagaman.

Untuk mencapai keharmonisan, seseorang perlu punya kesadaran akan pentingnya toleransi, keterampilan untuk bermusyawarah, keteladanan, dan sikap adil. Hidup yang harmonis memang jadi idaman setiap orang, tapi penilaian tiap orang tentang di titik mana keharmonisan itu terbentuk pasti berbeda-beda. Ada yang mematoknya tinggi, ada juga yang rendah.

Artinya, titik keharmonisan tiap orang tidak bisa disamakan. Walaupun begitu, tetap ada titik umum di mana keharmonisan itu bisa dirasakan bersama, contohnya terwujudnya persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan, itulah keserasian dalam hidup berdampingan.

Lalu apa hubungannya toleransi dengan keharmonisan ruang hidup? Logikanya sederhana, kalau kita punya kesadaran tinggi akan pentingnya toleransi, maka kesejahteraan di masyarakat bukan hal yang sulit untuk dicapai.

Bayangkan saja, kalau ada orang berkulit hitam lewat di lingkungan yang mayoritas berkulit putih dan lingkungan itu tidak punya sifat toleransi, apa yang akan terjadi? Pasti akan muncul rasisme, diskriminasi, dan bullying. Tapi kalau masyarakatnya punya sifat toleransi dan mau menghargai perbedaan, mereka justru akan saling bertegur sapa, bahkan bisa jadi saling mengobrol lebih dalam. Itu baru gambaran umum saja.

Daripada jauh-jauh membahas kasus intoleransi besar seperti pembantaian kaum Yahudi di Perang Dunia II oleh Nazi Jerman di bawah pimpinan Hitler, atau diskriminasi orang kulit hitam oleh orang kulit putih Eropa yang dijadikan budak kerja, dan masih banyak lagi kasus intoleransi yang sampai sekarang belum berakhir, lebih baik kita lihat dulu lingkungan sekitar kita.

Faktanya, masih banyak bullying yang terjadi di sekitar kita, baik di sekolah maupun di masyarakat, yang membuat orang-orang di dalamnya merasa tidak nyaman dan terancam. Bahkan korbannya tidak jarang masih anak kecil dan remaja. Lalu bagaimana nasib masa depan mereka kalau sejak kecil sudah mengalami bullying seperti itu? Mungkin ada anak yang menganggapnya biasa, tapi bagaimana dengan anak yang sensitif dan mudah baper? Mereka hanya bisa menangis, bisa depresi, sakit-sakitan, bahkan yang paling berbahaya mereka bisa sampai bunuh diri karena trauma yang terbawa sampai dewasa. Sungguh mengenaskan kalau membayangkan hal itu sampai terjadi.

Belum lagi, beberapa waktu lalu Indonesia dibanyak platform media sosial digegerkan juga dengan pembahasan adzan subuh yang dirasa mengganggu kenyamanan umat non muslim, bahkan di daerah pariwisata, aktivitas keagamaan sering disebut mengganggu kenyamanan wisatawan asing. Ini murni tercipta dari sikap intoleran seseorang yang tidak peduli dengan keberagaman dan kebersamaan.

Kesimpulan

Toleransi itu selalu berbanding lurus dengan harmoni sosial. Artinya, jika rata-rata orang di masyarakat punya sifat toleran, maka harmoni sosial akan lebih mudah dicapai, begitu pun sebaliknya.

Harmoni sosial sendiri punya banyak manfaat, salah satunya terciptanya persatuan di masyarakat, kemajuan di berbagai bidang, dan meningkatnya kreativitas masyarakat. Tapi untuk mencapai itu semua, kita masih harus melewati banyak hambatan, seperti banyaknya orang yang egois, yang merasa kelompoknya lebih baik dari yang lain, dan banyaknya diskriminasi di lingkungan hidup. Untuk melewati hambatan itu, dibutuhkan pencegahan sejak awal terhadap setiap masalah, baik yang besar maupun kecil, supaya ketika ada masalah yang terdeteksi bisa segera diredam. Dengan begitu, keharmonisan ruang hidup melalui jembatan toleransi pun bisa benar-benar tercipta.

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post