oleh : A.R. Arinda
“Santri”, mungkin yang terbayang di pikiran kita ketika medengar kata itu adalah seseorang yang setiap harinya mengaji, tidak jauh-jauh dari kitab kuning, dan dalam kehidupannya hanya ada genre religi. Namun, nyata nya kehidupan santri tidak sesederhana seperti yang dibayangkan. Di tengah derasnya arus zaman yang bergerak semakin cepat, kehidupan santri mengalami perubahan cukup drastis. Mereka seakan-akan hidup di dua dunia: dunia pesantren yang lekat dengan kajian kitab dan dunia luar yang semakin modern. Dari kedua nya santri dituntut agar dapat berjalan secara seimbang: menjalankan kewajibannya sebagai seorang santri namun tidak menutup diri dari perkembangan zaman.
Tentunya, berjalan di antara dua arus tersebut bukanlah hal yang mudah. Sebab dibalik kesederhanaan kehidupan santri menyimpan hari-hari yang penuh dengan kesibukan. Mereka menyapa pagi hari dengan berseragam sekolah dan berbagai macam buku pelajaran. Sementara malam harinya, mereka harus sudah kembali menggenggam lembaran kitab kuning dan barisan bait yang harus mereka lantunkan bersama. Kegiatan harian yang terus berulang itu membuat mereka menjadi terbiasa seolah waktu berjalan tanpa adanya jeda.
Namun, langkah mereka tidak terhenti di satu tujuan saja hanya karena padatnya hari-hari yang mereka jalani. Di antara banyaknya lembaran kertas kuning yang dibuka dan tumpukkan tugas sekolah yang harus diselesaikan, mereka masih memiliki ruang untuk tumbuh, berkembang, dan mencoba menemukan apa yang menjadi favorit mereka. Sebab pesantren bukan hanya tempat untuk memahami ilmu saja, tetapi juga tempat untuk bisa mengenali diri nya sendiri. Ada yang menemukan keberaniannya ketika mereka berdiri didepan banyak orang melalui kegiatan khitobah. Ada yang menemukan jiwa kepemimpinannya melalui organisasi yang mereka ikuti. Ada yang lebih memilih menuangkan gagasannya melalui tulisan. Bahkan ada yang mengasah kemampuan yang sudah mereka miliki melalui ekstrakulikuler dan berbagai macam perlombaan. Setiap santri memiliki garis kehidupannya masing-masing untuk bisa grow up, dan pesantren adalah salah satu tempat untuk mewujudkan langkah-langkah kecil yang sudah mereka bangun.
Kemampuan yang terus tumbuh melalui berbagai kegiatan tersebut membawa mereka lebih berani untuk melangkah kedepan. Ada proses panjang yang menyertai setiap langkah menuju prestasi. Melalui perlombaan di banyak bidang, mereka mampu berlatih di sela-sela riuh nya hari yang mereka jalani. Memanfaatkan waktu yang tersisa setelah sekolah, madrasah, dan mengaji. Bahkan ada malam-malam sunyi yang menjadi saksi betapa giatnya mereka berlatih dan mempersiapkan diri, meskipun terkadang ada kegagalan yang harus diterima dengan lapang. Tetapi, mereka akan kembali mencoba. Sebab setiap perjalanan pasti menyisakan sesuatu untuk dipelajari.
Pada akhirnya, prestasi bukan sekedar tentang hasil yang terlihat, melainkan tentang proses panjang yang membentuk seseorang di dalamnya. Begitulah santri berjalan, membawa kitab disatu tangan dan membawa cita cita di tangan yang lain. Mereka mengaji tanpa harus berhenti bermimpi, belajar tanpa harus kehilangan kesempatan untuk berprestasi. Dan inilah yang membuat perjalanan santri semakin berkesan: di tengah padatnya kehidupan di pesantren, mereka mampu menemukan waktu untuk tumbuh dan mengusahakannya. Sebab menjadi santri bukan tentang memilih antara mengaji dan prestasi, namun tentang bagaimana kedua nya dapat tumbuh bersama dalam satu perjalanan.
Semua itu terangkum lewat pengalaman penulis yang telah menempuh pendidikan pesantren selama enam tahun. Tiga tahun di MTs, dan tiga tahun di MA. Melalui sebuah proses panjang dengan rangkuman banyak peristiwa, argumen ini adalah bentuk dari keteladanan yang bisa kita petik nilai filosofinya bersama. berjalan dengan dua pijakan kaki yang saling menopang untuk menuju peningkatan mutu diri, bukanlah sebuah kemustahilan.
