Masih Relevankah Santri Sekarang Belajar Filsafat?

Masih Relevankah Santri Sekarang Belajar Filsafat?

oleh Shabrina Nuha Rosyida

Terkadang, di era digitalisasi yang semakin cepat ini kita cenderung tidak sadar bahwa ritme dunia yang serba instan kerap membuat kita berjarak dengan diri kita sendiri, bahkan tidak jarang kita tidak mengenal diri sendiri sekalipun. Ironis nya, semakin lama kita tidak mengenal diri kita sendiri, maka kita tidak akan pula mengenal siapa Tuhan kita, sebab ada pepatah yang mengatakan "Barangsiapa yang mengenal dirimu sendiri, niscaya akan mengenal Tuhanmu".  

Pengalaman ini terasa sangat nyata untuk bagiku. Sebagai alumni angkatan kedua dari Pondok Pesantren Al-Inaaroh Batang, aku pernah berada di titik kelam dimana aku merasa benar-benar kehilangan arah, dan jati diri. Di tengah riuhnya rutinitas dan dinamika kehidupan pesantren, aku juga pernah diliputi oleh rasa insecure serta keraguan yang mendalam untuk melangkah. Saat itu, aku bahkan tidak pernah benar-benar mengenal (memahami) Tuhan. Dada yang terasa sesak dan sempit, yang sering memunculkan bisikan kecil bahwa Tuhan itu terasa jauh atau terkesan tidak adil dengan membiarkanku berjalan di ketidakpastian. 

Namun, dari situlah aku mendapatkan pelajaran penting dari filsafat. Setelah keluar dari gerbang pesantren, kehidupan pun terus berlanjut, dan aku melanjutkan hidup di sebuah kampus Islam di kota Semarang. Proses pencarian jati diri itu pun dimulai dan telah menemukan celah titik terangnya. Aku akhirnya pulang menuju esensi diriku sesungguhnya. Aku yang menjadi sosok pribadi yang lebih ceria, hangat, berani mengekspresikan sisi centil, serta tumbuh dengan rasa cinta dan kasih sayang yang utuh terhadap diri sendiri. Bagian yang paling menarik diantara aku, santri, dan filsafat itu terletak pada sebuah proses perjalanan menemukan jati diri yang telah menyadarkan ku bahwa mengenal dan mencintai diri sendiri merupakan pintu pertama untuk berdamai dan mengenal Tuhan kembali secara hangat dan utuh.

Proses perjalanan melelahkan namun membentuk kedewasaanku itulah yang akhirnya mempertemukan ku bahkan mulai memahami sedikit demi sedikit arti filsafat. Memang, filsafat seringkali kita persepsikan sebagai tumpukan teori-teori yang rumit, melangit, atau bahkan hal tabu jika dipelajari oleh santri. Namun faktanya, filsafat tak pernah sejauh itu, tetapi sangat dekat juga hadir dalam keseharian kita, baik itu saat sedang mengaji di pesantren maupun ketika sedang bergulat, menghadapi realitas hidup di luar yang keras. 

Jika ditinjau lebih dalam, pola tradisi pesantren dan filsafat sejatinya memiliki napas yang sama, seperti pembentukan moralitas, tradisi adu argumen dalam kajian (Bathsul Masai), hingga pengalaman mengabdi di masyarakat dimana itu semua merupakan bentuk nyata dari pengasahan daya dan pola pikir serta kesadaran diri. Pada dasarnya, berfilsafat sering disebut juga sebagai proses perjalanan 'phylosophos', yaitu sebuah perjalanan berani untuk mencintai kebijaksanaan, kejujuran dalam berpikir, dan pencarian kebenaran yang menuntun akal serta batin kita. 

Gagasan tentang pencarian makna dan keberadaan Tuhan sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah perkembangan pemikiran filsafat. Seperti yang pernah dikatakan oleh filsuf eksistensialis, Jean Paul Sartre, yang menyatakan bahwa "Eksistensi mendahului esensi", maksudnya adalah manusia yang terlahir lebih dulu, merangkak, dan meraba-raba di dunia yang asing, baru kemudian manusia mendefinisikan makna hidup nya atas pilihan-pilihan yang telah diambil. Namun, di titik inilah tradisi filsafat Islam memberikan  sebuah penawar atas krisis eksistensial tersebut. Ibnu Sina melalui argumentasi 'Burhan al-Siddiqin' menegaskan bahwa keberadaan diri kita yang terbatas dan serba tidak pasti (mumkin al-wujud), yang akhirnya akan bermuara secara rasional pada kesadaran akan Wujud yang mutlak (Wajib al-Wujud) yakni Tuhan. Dalam konteks pesantren, pemikiran filosofis semacam ini akan terasa sangat dekat dan nyata. Santri tidak hanya diajak menghafal doktrin Ketuhanan, melainkan secara tidak langsung akan masuk ke dalam fase pencarian makna itu secara mandiri, mulai dari mempertanyakan, berdialog dengan keraguan batin, hingga akhirnya menemukan kembali hakikat iman bukan dari keterpaksaan suatu tradisi, tapi sebagai kesadaran yang teruji, bijak, dan matang.   

Maka, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan era digitalisasi hari ini, sebuah pertanyaan penting hadir; apakah masih relevan santri sekarang belajar filsafat?. Jawabannya, menurutku filsafat akan selalu relevan dipelajari oleh siapapun dan kapanpun, sebab mau sepesat apapun teknologi berkembang, manusia akan selalu membutuhkan kejelasan dalam berpikir, keberanian dalam memahami realitas, serta kepekaan untuk menemukan kembali kompas pulang di dalam dirinya

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post