Pendahuluan
Zaman selalu memberi corak identitas yang kerap merancukan pola pikir manusianya. Segala intrik dan tatanan masyarakatnya kerap menggiring mindset individu kedalam zona yang akrab dihiasi rasa bimbang. Menjadi manusia yang membina kewarasan akal sehat, tentu membutuhkan perjalanan edukatif dengan segala ketidaknyamanan yang harus ditempuh. Beberapa waktu terakhir, masyarakat seperti sedang dihadapkan pada realitas sosial yang menandai variasi berpikir kerap menjadi pemecah belah persatuan tanpa paham nilai filosofi yang sebenarnya.
Antara tradisi dan masa depan, dalam beberapa waktu terakhir selalu menjadi pembahasan panjang yang kajiannya tak hanya dipresentasikan dalam ruang-ruang seminar saja. Di kajian keagamaan, di forum-forum diskusi interaktif forum formal, hingga di sudut-sudut tongkrongan santai juga membahas hal ini. Jika ditarik dengan benang panjang dari banyaknya isu-isu yang berkembang hari ini, akar masalahnya ada pada pemahaman definisi antara tradisi dan modernitas.
Dialektika tradisi dan modernitas
Tradisi dan modernitas selalu diposisikan dalam dua sisi yang saling berlawanan. Tradisi dianggap sebagai potret masa lalu yang terkesan statis dan irasional, sementara modernitas dianggap sebagai representasi kemajuan, rasionalitas dan potret masa depan. Fenomena ini melahirkan sikap ekstrim di masyarakat. Satu sisi ada yang menolak modernisasi sebagai upaya mempertahankan tradisi secara utuh, sisi yang lain ada yang meninggalkan tradisi untuk mengejar modernitas.
Apakah sebenarnya yang terjadi? Benarkah manusia tengah hidup dalam salah satu poros secara absolut?. Jika dianalisa dengan kacamata yang paling netral, bukankah sebenarnya manusia tengah menjalani sebuah dialektika antara poros-poros tersebut. Kita sedang menjalani masa dimana sejatinya antara tradisi dan modernitas saling bertegur sapa diruang rohani seorang manusia.
Koentjaraningrat mengemukakan bahwa tradisi adalah adat istiadat yang sudah mengalami pewarnaan oleh konsep-konsep kebudayaan. Ia adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya yang dibiasakan. Sementara Edward Shils menyatakan " Tradition is anything which is transmitted or handed down from the past to the present. (Tradisi merupakan segala sesuatu yang diwariskan atau ditransmisikan dari masa lalu ke masa kini.)
Dari dua pandangan diatas, kesimpulan sederhananya adalah tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sebuah proses pewarisan yang aktif dan pasti akan melekat pada realita kehidupan setelahnya. Dengan kata lain, hari ini adalah hasil dari sebuah perjalanan yang telah disiapkan jalurnya oleh masa lalu. Apakah semua itu pantas untuk dicitrakan sebagai sesuatu yang kuno dan bahkan tidak perlu dipahami sama sekali lalu ditinggalkan?
Sementara modernitas juga memiliki definisi yang perlu kita pahami bersama titik pokoknya. Menurut Soerjono Soekanto, Modernitas adalah suatu bentuk perubahan sosial yang terarah dan didasarkan pada suatu perencanaan sosial. Sedangkan menurut Samuel P. Huntington Modernisasi adalah proses perubahan menyeluruh yang tidak dapat terelakkan akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memengaruhi pola pikir serta nilai masyarakat.
Dari sini jelas, bahwa modernitas bukan serta Merta lahir dari ketiadaan. Konsepnya merupakan hasil dari sebuah proses yang sama dengan kelanjutan prinsip dari tradisi. Memilah antara poros tradisi dan poros modernitas secara terpisah merupakan sebuah analisa keliru karena tidak ada masa lalu jika tidak ada masa depan. Sebaliknya, masa depan adalah masa dimana masa lalu telah ditransformasikan oleh waktu hingga terciptalah kondisi yang hari ini kita sebut sebagai masa depan.
Pesantren Sebagai Ruang Dialektika Zaman
Hidup dizaman sekarang, tentu merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan yang wajib kita syukuri. Berada dalam lingkaran transisi artefak masa lalu yang tersusun rapih di setiap rak-rak literatur zaman, dengan wacana obsesi yang mengharuskan kita selalu cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi juga pola kehidupan baru adalah tantangannya. Semua itu membutuhkan prepare, planning, dan juga tempat untuk kita benar-benar tidak sampai kehilangan arah.
Lantas dimana sebenarnya kita bisa menjalani realitas modern dengan tetap mengenal dan menyapa tradisi hingga mencapai situasi ideal kewarasan akal sehat?. Pesantren adalah jawabannya. Meski bukan satu-satunya tempat terideal membina karakter yang kental akan Budi pekerti luhur dan obsesi kemajuan rasionalitas, di pesantren keduanya tersaji dalam konsep yang sangat balance. Pesantren menghadirkan prinsip kurikulum klasikal dengan tetap terbuka pada orientasi pemahaman wawasan masa depan. Faktanya di pesantren santri tidak hanya diajari untuk menjadi ahli ibadah sesuai tradisi saja, tapi juga diajarkan menjadi insan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Keseimbangan tersebut dapat dilihat secara konkret dalam praktik daily activity santri di pesantren. Tradisi kuat dijaga dengan melalui pengajian kitab kuning yang usianya ratusan tahun, adab serta akhlak dipupuk matang dengan konsep yang sama dengan budaya masa lalu. Sementara mereka juga mendapat semangat modernitas lewat adaptasi teknologi digital, penguasaan bahasa asing ( umumnya Inggris dan Arab ), dan keterbukaan dengan wacana keilmuan kontemporer.
Dengan demikian pesantren tidak menempatkan poros tradisi dan modernitas sebagai suatu yang harus dipilih salah satunya. Justru pesantren memposisikan keduanya sebagai dua elemen yang saling menguatkan. Tradisi menjadi dasar atau fondasi kuat seorang santri. Modernitas memberi sayap untuk santri mampu terbang menjelajah masa depan. Titik temu inilah yang melahirkan kewarasan akal sehat. Modern tanpa kehilangan adab, dan tradisional tanpa kebutaan relevansi
Kesimpulan
Pada akhirnya tradisi dan modernitas bukanlah dua musuh yang wajar dipertentangkan. Keduanya merupakan satu kesatuan dialektis yang berkelanjutan. Tradisi adalah fondasi, modernitas adalah jalan menuju masa depan. Pesantren adalah bukti bahwa kedua poros ini bisa seimbang tumbuh dalam diri seseorang. Meski bukan satu-satunya tempat ideal untuk membina akal sehat, namun pesantren dapat menjadi tempat yang memfasilitasi ketidakteraturan mindset manusia yang harus dengan ilmu pengetahuan.
oleh : Rysky Firmansyah, S.Pd
