Oleh : Sabrina Nuha (Jamaika)
Jika dilihat dari segi historis, hierarki eksistensial seringkali menempatkan Tuhan sebagai pencipta utama (puncak rantai) dan manusia sebagai makhluk ciptaan yang diberikan anugrah kehendak bebas dan akal budi. Namun, seiring berjalannya waktu, hasrat dasar manusia untuk berkuasa layaknya Tuhan dengan melahirkan ciptaan baru berupa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Kondisi semacam ini akan menimbulkan pertanyaan fundamental mengenai hakikat manusia itu sendiri. Apakah dengan adanya AI merupakan sebuah lanjutan dari rantai penciptaan, atau justru akan memicu sebuah paradoks eksistensial yang membuktikan bahwa manusia tidak benar-benar berkuasa atas ciptaannya sendiri?. Mirisnya lagi, jika hal ini benar-benar paradoks, manusia tanpa sadar telah membuat sesuatu yang menjadikan diri nya sendiri budak dari ciptaan nya.
Dalam konsep teologis dan metafisika, kekuasaan mutlak hanyalah milik Allah SWT, yang sifatnya tidak mudah bergantung pada apapun dan tidak dapat diperbudak oleh makhluk ciptaan-Nya. Sebaliknya, sifat dan relasi antara manusia dan teknologi ciptaannya justru menciptakan kepalsuan dominasi (illusion of Control). Hal ini dikarenakan ketika manusia menciptakan AI dengan ilusi ingin menjadi "Berkuasa seperti Tuhan", maka akan memunculkan sebuah paradoks eksistensial. Manusia tidak akan benar-benar mampu berkuasa dalam hakikat ontologis atas AI, melainkan lama-kelamaan manusia itu sendiri yang akan mudah bergantung, yang mana ciri dari sifat "kuasa" Tuhan bertolak belakang dengan sifat kuasa nya manusia.
Jean Baudrillard menggambarkan bahwa fenomena ini merupakan suatu kondisi dimana buatan (ciptaan) manusia (simulacra) telah mengambil alih realitas itu sendiri. Bayangkan dengan adanya teknologi semacam AI ini, manusia dapat menjadi sesuatu hal yang tidak memungkinan terjadi di kehidupan nyata, bahkan hal tidak masuk akal sekalipun, manusia dapat melakukan sesuka hati alat buatannya tersebut, sehingga hal itu menyebabkan manusia memiliki kecenderungan berlebih dalam jaringan sistem algoritmik yang telah mereka bangun sendiri.
Selain manusia yang terjebak dalam jaringan sistem tersebut, perlahan akan memudarkan ide/pikiran kreatif dan unik manusia itu sendiri. Manusia jarang menggunakan pikirannya untuk mengeksplorasi ide karena sudah ada bantuan AI. Penggunaan AI yang berlebihan justru akan melumpuhkan fungsi dari akal budi (animal rationale). Misal, dalam sebuah forum ada keputusan penting yang harus diselesaikan, semua keputusan dalam tiap permasalahan mareka lampiaskan pada algoritma, maka tidak lama kemudian jaringan daya kritis otak manusia akan segera mengalami 'atrofi (penyusutan), bukan karena sistem jaringan akal manusia rusak atau apa, tapi sebab manusia sudah terbiasa mengkonsumsi segala sesuatu dengan instan dan otomatis. Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialis, dalam karyanya "The Question Concerning Technology" yang memberikan sebuah peringatan bahwa ketika teknologi dipandang sebatas alat efisiensi, manusia akan berisiko kehilangan pandangan atas esensi dirinya yang sejati.
Apabila pola ini terus berkelanjutan tanpa refleksi etis di dalamnya, rantai penciptaan ini tidak lagi melahirkan hierarki baru yang harmonis, melainkan sebuah lingkaran paradoks. Manusia menciptakan AI untuk membebaskan segala bentuk keterbatasan yang akhirnya tanpa manusia sadari juga telah menyerahkan kekuatan otonomi, kedaulatan, berpikir, bahkan kehendak bebas pada sistem tersebut.
Hilangnya keunikan atau rasa ingin tahu (intellectual curiosity) merupakan sebuah langkah awal dari perbudakan tak kasat mata. Semakin lama mengkonsumsi semakin lama pula manusia justru akan terlarut di dalam nya. Perbudakan ini tidak lagi menggunakan rantai fisik, tapi secara sukarela membiarkan akal pikiran dan citra keaslian manusia itu terganti dengan kecerdasan buatan.
Pada dasarnya, tidak ada yang salah dari perkembangan teknologi AI yang mulai merembak luas, sebab menciptakan sesuatu akan dipandang baik jika memiliki letak kebermanfaatan, dan AI berfungsi guna untuk mempermudah alur kerja manusia di dunia. Namun ketika kemudahan itu kemudian disalahgunakan sehingga tidak jarang setiap manusia--tidak semuanya, pasti menjadi mudah bergantung pada AI, dimana hal tersebut yang memicu terjadinya paradoks "Manusia menjadi Tuhan atau Manusia yang menjadi Budak Teknologi?". Dan akhirnya, hanya manusia sendiri lah yang memiliki kendali untuk menghentikan tergusurnya kreativitas dengan menegaskan kembali letak martabat akal budinya.
