Pesantren – Modernisasi – Relevansi

 

Pesantren – Modernisasi – Relevansi

Oleh : Agus. H. Muhammad Iqro' Nuktah Akbar, S.Ag

A.     Latar Belakang

Pesantren yang kita kenal sebagai instansi Lembaga non-formal. Nyatanya, semakin hari semakin menunjukan eksistensinya dalam dunia Pendidikan. Pesantren menjelma dari sarung menjadi simbol-simbol kemajuan dalam studi islam. Santri kian necis memakai dasi dengan bawahan sarung lengkap dengan Sepatu klimis. Kemajuan pesantren bukan proses singkat hasil kemajuan zaman-modernitas. Banyak aspek dan indikator yang dipelajari oleh pengasuh pesantren bahkan ditelaah oleh beberapa generasi. 

Kemajuan dan perkembangan pesantren adalah bentuk keterbukaan kaum santri terhadap perkembangan apapun baik itu positif atau dalam ranah negatif sesuai konteks. Pendalaman kaum santri terhadap pola modernitas nyatanya ampuh dan tajam untuk membaca kebutuhan zaman dan tuntutanya. Namun, setiap hal tetap meninggalkan perspektif dasar, yakni “tidak ada suatu hal apapun yang sempurna; setiap kelebihan memiliki keurangan & setiap kekurangan memiliki kelebihan”. 

Nilai – niali pesantren adalah nilai fundamental dari syariat islam baik secara ilmiyah ataupun ubudiyah. Islam dengan segala khazanah keilmuan yang ditinggalkan memberikan perspektif kedinamisan struktur berpikir ulama salaffussholih dalam pemberian hukum agama. Baik yang bersifat ketuhanan, sosial ataupun spiritual yang bersifat personal. Zaman terus berkembang dan menemui problem nya masing – masing. Pergeseran sosial dan struktur berpikir akan menumbuhkan tembok – tembok problematis yang menuntut solusi – solusi kontemporer. Keterbukaan menjadi tuntutan dalam lapisan segala latar belakang; Pendidikan, ekonomi, keyakinan bahkan pola hidup yang bersifat privasi tidak lagi mempunyai ruang yang etis. Jika kita sempitkan pembahasan dalam tulisan ini, ternyata pesantren tidak bisa mengelak di balik dogma internal. Tolak ukur pesantren menemui titik gonjang – ganjingnya. Kapasitas serta kapabilitas muassis, pengasuh bukan lagi prioritas mutlak yang menjadi pertimbangan calon wali santri untuk memilihkan pesantren buah hatinya.

Apakah problem ini bisa di generalisasi?. Tentu tidak. Atau hanya belum. Kita tidak benar – benar bisa memastikan. Lalu, apa maksud dari tulisan ini?. Tulisan ini mencoba memberikan satu titik kondisi internal mencakup Pendidikan, pesantren dan relevansi kepesantrenan dihadapan modernisasi.

B.     Pendidikan

Pendidikan adalah sebuah proses yang melibatkan tiga aspek, yaitu individu, komunitas atau masyarakat nasional dari individu tersebut, serta semua elemen realitas, baik yang bersifat material maupun spiritual yang berkontribusi dalam menetapkan karakter, takdir, serta bentuk manusia dan masyarakat.1 Pendidikan tidak hanya sebatas proses pengajaran, melainkan juga melibatkan transfer pengetahuan, perubahan nilai-nilai, dan pengembangan karakter dengan segala elemen yang terlibat. Oleh sebab itu, pengajaran cenderung lebih fokus pada pengembangan keahlian atau area tertentu, sehingga perhatian dan ketertarikan lebih diarahkan pada aspek teknis. 

Pendidikan adalah suatu kegiatan yang sangat penting untuk mencapai keseimbangan serta kesempurnaan dalam pertumbuhan individu maupun komunitas. Fokus pendidikan lebih pada pembentukan kesadaran dan karakter individu atau kelompok, selain dari sekedar pengalihan pengetahuan dan keterampilan. Melalui proses ini, suatu bangsa atau negara mampu mewariskan nilai-nilai spiritual, budaya, pemikiran, dan keterampilan kepada generasi mendatang, sehingga mereka benar-benar siap untuk menghadapi masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan negara. 

Selain itu, pendidikan juga merupakan sebuah aktivitas yang memiliki maksud atau sasaran tertentu yang ditujukan untuk meningkatkan potensi manusia, baik dalam aspek individual maupun sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan. Dalam dunia pendidikan, terdapat dua elemen utama yaitu aspek kognitif (berpikir) dan aspek afektif (perasaan). Misalnya, ketika kita belajar sesuatu, yang terlibat tidak hanya proses berpikir, tetapi juga berbagai unsur yang berkaitan dengan emosi seperti motivasi, kegembiraan, dan lain-lain. 

Menurut Ki Hajar Dewantara, inti dari pendidikan adalah membebaskan individu, sedangkan menurut Drikarya, tujuannya adalah memanusiakan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa para ahli berpendapat bahwa pendidikan tidak dapat dipandang hanya dari sudut pandang kognitif saja, tetapi harus memiliki cakupan yang lebih luas.

Fungsi Pendidikan :

1.      Mengembangkan wawasan subjek didik mengenai dirinya dan alam

sekitarnya, sehingga dengannya akan timbul kemampuan membaca (analisis), akan mengembangkan kreativitas dan produktivitas.

2.        Melestarikan  nilai-nilai  insani  yang  akan  menuntun  jalan kehidupannya

sehingga keberadaannya, baik secara individual maupun social lebih bermakna.

3.      Membuka pintu ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan kemajuan hidup bagi individu dan social.

Pesantren dalam definisinya telah banyak menjelaskan nilai internal dan eksternal terkait historis, peran dan substansial nilai dari pesantren itu sendiri. Pesantren telah menemui titik eksisnya. Akademisi Pendidikan terlebih dari kalangan muslim, telah mengakui efektifitas hasil Pendidikan yang diterapkan oleh pesantren. Mulai dari alumni yang multi-talent sampai dengan yang visioner dan tahan banting. Tanpa melebih-lebihkan keunggulan pesantren, proses Pendidikan dalam pesantren memang meiliki output yang lebih unggul dari pada pola Pendidikan non pesantren / kurikulum sebagai bentuk pedoman belajar yang terintegritas. 

Dalam puncak eksistensinya kini, pesantren juga harus menemui problematisnya. Mulai dari problematis internal, eksternal bahkan yang bersifat tuntutan zaman. Artinya, pesantren sekarang tidak bisa mengklaim bahwa pola dan budaya pendidikanya yang telah berlangsung dan turun temurun ini adalah kehebatan dan kesempurnaan yang tidak tertandingi. Mari kita coba bedah problematis pesantren sekarang dengan perspektif penulis yang juga berlatar belakang santri.

C.     Problematis Pesantren

Dalam sub bab ini mari kita bedah kondisi serta problem pesantren ditengah banyaknya tuntutan kemajuan zaman dan modernisasi. Pesantren tentu meliki komponen – komponen yang melengkapi berjalanya proses Pendidikan. Komponen pesantren mencakup pengasuh, santri, pendidik / guru dan fasilitas pesantren.

Komponen ini adalah inti dari bagaimana pesantren itu melangsungkan proses pendidikanya. Selanjutnya, bagaimana santri itu masuk dan keluar dari satu pesantren?. Pertanyaan sederhana ini yang kemudian menjadi dasar problem dari zaman yang terus berjalan dan menuntut banyak kedinamisan pola dan mindset. Mulanya pola input santri adalah keberangkatan seseorang yang memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu agama secara mendalam. Apakah latar belakang tersebut masih menjadi dasar dari setiap santri?, Telah mengalami pergeseran bukan?. 

Sebab dasar tersebut menjadi urgensi dari orang tua, bukan lagi dari calon santri itu sendiri. Satu problematis satu itu saja, dalam praktiknya menuntut pesantren mampu memberikan berbagai solusi demi menjaga substansi dan output santri yang tetap ideal. Belum lagi standar pemilihan pesantren dari calon wali santri era sekarang, Sebagian besar juga mulai bergeser dari budaya pemilihan pesantren yang telah berlaku. Memang tidak seluruhnya demikian, terlebih pesantren – pesantren besar dan tua. yang alumni – alumninya telah membuktikan kualitas dari almamaternya. Apa

pergeseran standar pemilihan tersebut?, Gedung dan fasilitas dijadikan prioritas utama tanpa diimbangi observasi pengasuh sebagai otoritas tertinggi dalam budaya Pendidikan pesantren. Akibatnya, ya seperti yang kita ketahui sekarang. Banyak sekali kasus – kasus pesantren yang justru sangat jauh bahkan menyimpang dari ajaran agama islam. Selanjutnya, disadari atau tidak pola input pesantren sekarang menciptakan pola hubungan antara kiyai – santri – wali santri menjadi sedikit kehilangan nilainya. Pesantren yang bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan anak menjadi bias dengan peran keamanan anak dalam sosial pergaulanya.

Wali santri yang tidak memprioritaskan latar belakang pengasuh cenderung akan intens menuntut tanpa diimbangi dengan belajar menjadi bagian pesantren. Tidak perlu menjalin hubungan dengan kiyai (pengasuh), tidak lagi menganggap sowan sebagai norma memondokkan anak, dan nilai – nilai pesantren lainya.

Problematis ini bukan sepenuhnya kesalahan input pesantren dalam konteks modernitas. Akan tetapi, seyogyanya, pesantren mampu menangkap masalah ini sebagai masalah yang dicarikan pola solusi untuk menunjang input pesantren dan tentu untuk keberlangsungan proses Pendidikan sampai dengan outputnya. Tujuanya adalah, idealisasi dari produk pesantren di Tengah modernitas. ‘tidak kehilangan identitas, dan mampu melahirkan identitas yang relevan dengan tuntutan zaman”.

D.     Relevansi pesantren dan modernisasi

Pesantren telah dikenal sebagai Lembaga pendidikan yang mengedepankan pengetahuan dan sikap tulus. Dalam konteks pesantren modern, pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui contoh nyata. Para santri diajarkan etika sebelum ilmu menghormati guru, sebelum berbicara, dan melatih kesabaran dalam setiap tahap belajar. Nilai-nilai ini menjadi dasar yang kokoh di tengah kehidupan yang serba cepat. Dengan mempelajari kitab kuning, menghafal Al-Qur'an, serta menjalani pelatihan kepemimpinan, pesantren menciptakan individu yang berpengetahuan dan berbudi pekerti, bukan hanya sekadar memiliki informasi tanpa tujuan yang jelas.

Perkembangan era digital membuka banyak kesempatan, tetapi juga menyimpan risiko bagi generasi muda. Dalam konteks pendidikan di pesantren teknologi dilihat tidak sebagai lawan, tetapi sebagai alat untuk berdoa dan sarana kebaikan. Santri dilatih untuk memanfaatkan media sosial dengan bijaksana, menyebarkan nilai-nilai Islam yang menenangkan, serta melindungi diri dari dampak buruk internet. Disamping itu, banyak pesantren saat ini berinovasi dengan program-program terkait literasi digital, penguasaan bahasa asing, hingga pengembangan jiwa wirausaha. Hal ini membuat pesantren semakin fleksibel, terbuka terhadap perubahan, dan mampu bersaing di kancah global.

Kesimpulanya adalah, detik ini pesantren dengan segala pergeseran problematis dasar yang menuntut inovasi baru dalam internalisasi nila – nilai dasrnya. Nyatanya tetap unggul dan tidak tertinggal. Tidak kolot dan membuka diri seterbuka mungkin. Dari pola kurikulum yang diadopsi berbagai pesantren, masing – masing bisa mendominasi dari unggulan – unggulan yang menjadi output Pendidikan secara umum. Kita patut menilai pesantren dengan objektif, tidak mudah mempertahankan nilai sembari menambah dan berdadptasi dengan kebutuhan yang bersifat tuntutan.  Pesantren bukan Lembaga Pendidikan yang sempurna. Tapi pesantren adalah Lembaga Pendidikan yang tetap – selalu ideal untuk anak – anak bangsa. 

Wallahua’lam bisshowab.

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post