(Oleh Rysky Firmansyah, S.Pd)
Latar belakang Masalah
Ditengah ketidakpastian arah perkembangan zaman, menyoroti isu pudarnya nilai luhur tentu tak ada habisnya. Corak budaya yang melekat menjadi identitas kelompok masyarakat telah terbingkai rapih sejak dahulu. Prosesnya yang berangsur-angsur dengan disaksikan oleh guliran waktu yang jika dikalkulasi mungkin melewati puluhan, ratusan hingga ribuan tahun, membuat potret-potret budaya tersaji dalam visualisasi harmoni kompleks sesuai dengan corak dan warnanya masing-masing.
Hari ini, atau sejak era manusia mendeklarasikan kehidupan mereka sudah menempati zaman yang dikatakan modern, perubahan kultur terjadi dimana-mana. Adat, tradisi, perilaku, hingga tata Krama dan tata busana sudah perlahan berubah hingga memudarkan identitas asli disetiap daerahnya. Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial budaya mengacu pada semua perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat. Perubahan ini akan memengaruhi sistem sosial yang ada, mulai dari nilai, sikap-sikap sosial, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Ini karena sifatnya berantai dan antara satu unsur dengan unsur kemasyarakatan lain saling berhubungan.
Banyaknya faktor yang mempengaruhi perubahan kultur budaya dalam masyarakat, jika dipilah secara spesifik tentu menghadirkan beberapa penyebab yang secara dampak bisa dikatakan sangat kontras. Berbagai perubahan itu hari ini kerap dipandang sebagai hal yang paling bertanggung jawab atas perubahan-perubahan mendasar perilaku dalam masyarakat. Bagi beberapa orang ini adalah hal yang lumrah, namun beberapa orang lagi berasumsi bahwa ini adalah hal yang relatif buruk.
Dalam masyarakat luas, perubahan perilaku yang sering disikapi dengan penolakan adalah hal-hal yang berbau penyimpangan. Uniknya, sebagian besar hal penyimpangan ini dilemparkan kepada generasi muda yang secara umum rentan terhadap orientasi kehidupan ala kekinian. Menurut James W. Van Der Zanden, perilaku menyimpang adalah tindakan yang dianggap tercela dan di luar batas toleransi oleh sebagian besar masyarakat, yang berarti perilaku tersebut melanggar nilai dan norma sosial yang berlaku sehingga tidak dapat diterima oleh kelompok masyarakat luas. Perilaku ini bisa beragam, mulai dari tindakan ringan hingga kejahatan serius, dan penilaiannya bergantung pada standar nilai, norma, serta budaya masyarakat.
Faktor-faktor penyebab perubahan pola kultur budaya dalam masyarakat
1. Difusi
Difusi terjadi karena penyebaran unsur baru, baik berupa alat, ide, atau gagasan dari suatu masyarakat ke masyarakat lain.
2. Akulturasi
Akulturasi adalah percampuran suatu kebudayaan baru dengan kebudayaan yang sudah ada, tanpa menghilangkan ciri kebudayaan aslinya.
3. Asimilasi
Asimilasi merupakan dua budaya yang melebur menjadi satu, menciptakan kebudayaan baru.
4. Penetrasi
Penetrasi adalah budaya lain yang merembes masuk ke dalam budaya suatu masyarakat. Proses ini bisa terjadi dengan damai atau dipaksa.
5. Invasi
Invasi terjadi saat kebudayaan asing dipaksa masuk lewat peperangan, penjajahan, atau penaklukan ke dalam kebudayaan masyarakat lokal.
6. Milenarisme
Milenarisme ialah perubahan sosial budaya dengan tujuan mengangkat masyarakat dengan kedudukan sosial rendah. Kebangkitan ini untuk memberi perubahan bagi orang-orang tertindas dan menderita.
Banyaknya faktor penyebab terjadinya perubahan kultur budaya masyarakat, memaksa kita untuk terus jeli dan mampu membuat sebuah asumsi cerdas menyikapi hal ini. Pertanyaannya, apakah ketika kita sudah memahami rentetan faktor dasar diatas kemudian semua bisa diarahkan lewat langkah preventif dari masing-masing faktor?
Memahami detailing bab yang rumit dan serba kompleks tentu harus diimbangi dengan tinjauan masalah yang relevan dengan kondisi sekitar. Sekarang banyak orang merepresentasikan kehidupan pribadinya lewat sosial media. Pertanyaan lanjutannya, apakah sosial media bisa dijadikan acuan bahan analisis masalah untuk kita menemukan solusi real hingga nantinya persoalan pergeseran kultur budaya dapat diintegrasikan dengan pelestarian kultur lalu masa depan berjalan mulus dengan plot yang terus seimbang?
Ada banyak sekali gejala yang wajib kita paparkan hingga menjadi pemahaman kolektif ditengah masyarakat. Contoh kecil seperti adat yang hari ini hanya dihadirkan dalam format seremonial dalam setiap acara formal masyarakat lalu kita semua sepakat bahwa adat masih terjaga. Tutur bahasa santun yang hanya digaungkan dalam ruang-ruang kaku dan dengan sangat percaya diri kita akhirnya membuat satu generalisasi bahwa itu akan terbawa kepada semua kondisi suasana dalam masyarakat, gaya dan warna kesenian yang terus dipamerkan atau dipentaskan diruang sempit nan terbatas dirasa sudah cukup mewakili potret budaya yang membanggakan masih lestari keberadaannya. Ini merupakan hal baik yang masih kita sering jumpai dalam kehidupan modern. Tapi apakah semua itu cukup?
Orientasi kehidupan seimbang antara kemajuan zaman dan kelestarian kultur budaya
Semua hal tadi tidak akan ada artinya jika generasi penerus tidak sampai pada titik memahami nilai filosofis dari banyaknya agenda melestarikan budaya kedalam perilaku sehari-hari. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa bersama-sama membangun kesadaran masyarakat untuk menemukan jalan menuju keseimbangan antara kemajuan zaman dan kelestarian kultur budaya.
Langkah konkret dan substansial adalah dasar yang bisa menentukan keberhasilan menciptakan masa depan yang seimbang. Pintu utamanya tentu dari lingkaran yang mendidik. Bisa lewat sekolah, pesantren, komunitas literasi atau circle kecil yang didalamnya selalu menjadi jembatan penghubung antara kebuntuan keresahan pikiran dengan opsi-opsi solutif yang ketersediaannya harus lebih beragam dimunculkan dalam setiap interaksi di ruang-ruang itu.
Karena karakter selalu berkaitan dengan hal-hal urgent dalam kehidupan sehari-hari, menjadi pribadi yang selalu lebih banyak tahu dan mau menampakan pengetahuannya dalam berperilaku adalah cara terbaik membuat sebuah personal branding yang menginspirasi orang banyak.
Kesimpulan
Tidak ada perubahan pola kehidupan masyarakat yang mutlak sengaja dinormalisasi menuju kehancuran dan ketidakteraturan. Semua berkaitan dengan titik pandang, sudut pandang dan cara pandang seseorang menelaah fenomena sosial. Memperhatikan setiap aspek pendukung kelestarian kultur budaya yang muaranya adalah keseimbangan ruang hidup, menjadi agenda continue yang final harus kita sepakati. Karena semua sudah terbukti, jika kemajuan zaman tidak selaras dengan pelestarian lingkungan, maka lingkungan hidup akan memberontak dengan cara-cara yang menyulitkan manusia. Apalagi jika kemajuan zaman tidak beriringan dengan upaya pelestarian kultur budaya, manusia akan hidup dengan wacana yang seperti apa nantinya.
