Kritik Sastra - Membelai Sejarah Kelam Masa Kolonial Dari Novel "Cerita dari Digul" Persembahan Pramoedya Ananta Toer

Kritik Sastra - Membelai Sejarah Kelam Masa Kolonial Dari Novel "Cerita dari Digul" Persembahan Pramoedya Ananta Toer

Tim redaktur kelas XII A

Irham Maulana P, 

M. Nabil Alfaruqi

Zamrudin R

Faza Maulana

Cerita dari Digul adalah salah satu novel dari sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer yang menceritakan tentang pengalaman Digulist (penghuni Boven Digul, yaitu tempat pembuangan tahanan kolonial Belanda di Papua) dimana seluruh isi cerita ini diambil dari para narasumber penghuni Boven Digul yang kemudian dibukukan menjadi sebuah rangkuman kisah berupa novel oleh maestro kesusastraan Pramoedya Ananta Toer dengan judul Cerita Dari Digul. 

Dalam novel cerita dari Digul ini menggunakan bahasa Melayu, khas tulisan-tulisan sastra lama dengan mutu tinggi dimana para pembaca akan diajak bersampan ditengah arus kekayaan rasa dengan menghadirkan nilai-nilai history gamblang sebuah peristiwa kelam masa kolonial. Salah satu cerita yang diambil dari kisah  D. E Manu Tusoo (nama saduran salah satu digulist) pada pembukaan cerita terdapat kata-kata

 " Alangkah sedapnya tiupan bayu simalungun yang sepoi basah ini! Cahaya purnama nan perak pertanda, dilingkari oleh bintang nan gemerlapan menjadikan daun rambung, teh dan kelapa sawit kilau-kemilau. Penaka baiduri laiknya. 

Lambaian bermegah dan bidikannya, pada bayu yang sedang berembus itu, berbunyi : adalah engkau pernah menjumpai dalam buana yang luas ini, tanaman yang lebih mulia dari kami sendiri, Hai angin? "

Pada penggalan cerita tersebut, kita dapat merasakan betapa indahnya kata-kata yang Pramoedya pakai untuk menitah pembaca merayakan bahasa puitis sebagai bentuk belaian lembut pada perasaan-perasaan pembaca karya sastra. Akan tetapi disisi lain, jika kita adalah orang-orang awam yang tak paham dengan makna dari bahasa Melayu, atau paling tidak kita malas mencari tahu makna dari kata-kata yang diurai dalam cerita, jelas penggunaan bahasa Melayu untuk menceritakan kisah-kisah masa lalu bangsa kita, akan sulit atau mungkin tidak diminati oleh para pembaca. Apalagi hari ini, yang dapat menikmati novel karya Pramoedya Ananta Toer tidak hanya kalangan tertentu saja, jelas ini menjadi catatan yang mungkin akan lebih baik jika ditulis menggunakan bahasa Indonesia saja. 

Dalam novel ini juga  menyuguhkan cerita dari para eks Digulis lain. Dimana keseluruhan isi dalam novel cerita dari Digul sedikit banyak membantu kita memahami tentang kisah dan sejarah orang-orang di pengasingan Digul. Yang menarik, Pada bagian pengantar Pak Pram memberi pemaparan detail mengenai sumber-sumber cerita yang ditampilkan. Juga disinggung soal tulisan-tulisan lain yang memuat catatan seputar Digul. Hal ini tentu jadi petunjuk yang sangat membantu dalam memahami dan mendalami tentang sejarah mayarakat buangan di Digul.

Dari keseluruhan isi dalam beberapa kumpulan cerita yang bersumber dari tuturan para mantan pelarian buangan Digul, novel ini diakhiri dengan cerita berjudul "Minggat dari Digul ( tuturan dari salah satu digulis namun Tanpa mencantumkan Nama)". Dalam cerita ini, kedua tokoh yang menjadi pemeran dalam cerita, menceritakan perjalanan yang sangat menegangkan. Saleh dan Sontani adalah dua sahabat di tanah buangan Digul. Tanpa persiapan matang, dengan perbekalan yang dirasa cukup mereka melarikan diri. 

Kritik Sastra - Membelai Sejarah Kelam Masa Kolonial Dari Novel "Cerita dari Digul" Persembahan Pramoedya Ananta Toer
Bagaimana tidak menegangkan, mereka lari menyisir hutan belantara yang sangat luas. Hingga pada suatu fase mereka kehabisan perbekalan, akhirnya Saleh dan Sontani terpaksa memakan buah-buahan yang tak mereka ketahui apakah itu beracun atau tidak. Hingga akhirnya mereka keracunan, ditambah lagi dengan salah satu diantara mereka terkena gigitan nyamuk malaria, belum lagi mereka berdua hanyut dalam aliran sungai besar yang hampir merenggut nyama mereka.

Yang menjadi canggung, adalah ending dari cerita ini, dimana kedua tokoh dalam cerita hanya berakhir sampai bertemu dengan rombongan lain yang sama-sama melarikan diri dari Digul, akan tetapi bertemunya mereka masih didalam hutan belantara dan tentu saja masih banyak sekali hal menegangkan yang kita yakin belum dibahas didalam cerita. Endingnya yang menggantung itu juga kita anggap sebagai kekurangan, karena pembaca akhirnya hanya bisa menyimpulkan sendiri dengan cara mengira-ngira saja. 

Kesimpulan keseluruhan cerita dari Digul ini tentu saja merupakan sebuah novel yang menyajikan banyak informasi sejarah kelam bangsa ini,  namun penggunaan bahasanya yang jarang diketahui maknanya oleh pembaca awam menjadi hal yang perlu dipertimbangkan sebelum kita memutuskan untuk membeli novel ini.

Beranda Alinaaroh

Beranda Al-Inaaroh merupakan media yang mengakomodir berbagai bentuk informasi lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Abah Lutfi Center.

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan dan sesuai dengan topik pembahasan

Previous Post Next Post